Terkait Temuan Akta Cerai Palsu, Kemenag Kabupaten Cirebon Bilang Begini

Gara-gara akta cerai palsu, pernikahan Mutiah (47) dengan Chaelani (43) pun dianggap tidak sah. Ini penjelasan Kasi Binmas Kemenag Kabupaten Cirebon.

Terkait Temuan Akta Cerai Palsu, Kemenag Kabupaten Cirebon Bilang Begini
Tribun Jabar/Siti Masithoh
Mutiah saat menunjukkan akta cerai yang diduga palsu. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Masithoh

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Terkait akta cerai palsu milik Mutiah (47), warga Desa Gintung Lor, Kecamatan Susukan, Cirebon'>Kabupaten Cirebon, pernikahannya saat ini tidak sah secara negara.

Ia menerima akta cerai tersebut dari mantan suaminya, M Udin Mubasir (40) pada tahun 2016.

Mutiah mengetahui akta cerai tersebut palsu setelah menikah dengan suami barunya, Chaelani (43), 26 Agustus 2018.

Mutiah dan Chaelani pun tidak menerima buku nikah dari KUA Susukan saat menikah.

Kasi Binmas Kemenag Cirebon'>Kabupaten Cirebon, Moh Mulyadi, mengatakan, jika dari Pengadilan Agama menyatakan akta tersebut palsu, secara otomatis pernikahan Mutiah dan Chaelani tidak palsu secara negara.

Namun pihak KUA Susukan tidak akan mengeluarkan buku nikah jika akta tersebut dinyatakan palsu.

"KUA itu ketika menikahkan akan menyertakan sejumlah perayaratan kepada calon pengantin, setelah semua persyaratan lengkap, baru bisa dinikahkan. Jika setelah itu aktanya palsu, KUA dapat menggugurkan pernikahan tersebut," katanya saat ditemui di Kemenag Cirebon'>Kabupaten Cirebon, Rabu (17/10/2018).

Ia menambahkan, jika pasangan tersebut dinikahkan oleh KUA Susukan, berarti pihak desa yang salah memberikan dokumen persyaratan nikah, semisal N1 dan N2 kepada KUA.

"Pasangan yang akan menikah itu biasanya diberikan waktu 10 hari untuk melengkapi persyaratan," katanya.

Halaman
12
Penulis: Siti Masithoh
Editor: taufik ismail
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved