Ratna Sarumpaet Mengaku Bohong

Polisi Sudah Periksa Pejabat DKI, Sponsor Perjalanan Ratna Sarumpaet ke Chile

Dirinya ikut diperiksa sebagai saksi kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks terkait penganiayaan aktivis Ratna Sarumpaet.

Polisi Sudah Periksa Pejabat DKI, Sponsor Perjalanan Ratna Sarumpaet ke Chile
Warta Kota/Alex Suban
Ratna Sarumpaet saat digiring ke Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (4/10/2018). Ratna Sarumpat yang sebelumnya diamankan polisi Bandara Soekarno Hatta dicegah keluar negeri oleh imigrasi, Pencegahan Ratna Sarumpaet diduga terkait UU ITE. 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) ternyata telah memeriksa Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Asiantoro, kemarin, Rabu (10/10/2018).

Dirinya ikut diperiksa sebagai saksi kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks terkait penganiayaan aktivis Ratna Sarumpaet.

Waktu pemeriksaan terhadap Asiantoro dilakukan bersamaan dengan Ketua Dewan Kehormatan PAN, Amien Rais.

"Kemarin juga hari Rabu kita juga sudah lakukan pemeriksaan saksi dari Plt Kepala Dinas Pariwisata DKI," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono, saat dikonfirmasi, Kamis (11/10/2018).

Argo mengungkapkan bahwa dalam pemeriksaan itu Asiantoro ditanya alasan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan sponsor untuk Ratna Sarumpaet ke Chile.

Polisi pun menanyakan dari mana Pemprov DKI Jakarta tahu kalau di Cile ada acara Women Playwrights International Conference 2018 (WPIC) Chile 2018 atau konferensi internasional perempuan penulis drama dan teater yang hendak dihadiri Ratna.

"Kita lakukan pemeriksaan yang intinya bahwa berkaitan dengan sponsor untuk tersangka RS Ke Chile. Gimana kronologisnya, kemudian saksi ditanya mengetahuinya dari mana," jelas Argo.

Polisi telah menetapkan Ratna Sarumpaet tersangka menyebarkan berita bohong alias hoaks soal penganiayaan.

Dirinya ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (4/10/2018) malam. Dia diciduk sebelum naik pesawat meninggalkan Indonesia.

Ratna disangkakan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 28 jo Pasal 45 Undang-Undang ITE terkait penyebaran hoaks penganiayaan.

Atas kasus tersebut, Ratna terancam 10 tahun penjara. Ratna juga terancam pasal 14 UU nomor 1 tahun 1946. Pasal ini menyangkut kebohongan Ratna yang menciptakan keonaran.(*)

Editor: Ravianto
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help