Jika Harga Premiun Naik, Defisit Bisa Ditekan, Rupih Bakal Menguat

Menurut Bhima, bila kenaikan harga BBM premium dilakukan, maka defisit transaksi berjalan (CAD) setidaknya bisa berkurang

Jika Harga Premiun Naik, Defisit Bisa Ditekan, Rupih Bakal Menguat
Gani Kurniawan
Sejumlah sepeda motor antre mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis premium di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jalan Setiabudi, Kota Bandung, Selasa (6/3).

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Kemarin, pemerintah secara tiba-tiba mengumumkan rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM) premium.

Namun tak lama, pemerintah kembali mengumumkan bahwa kenaikan harga bensin premium tersebut ditunda.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara memperkirakan, kenaikan harga BBM premium ini akan terjadi melihat harga minyak acuan dan fluktuasi kurs yang tinggi.

Menurut Bhima, bila kenaikan harga BBM premium dilakukan, maka defisit transaksi berjalan (CAD) setidaknya bisa berkurang, juga ada ruang bagi penguatan rupiah.

Mahasiswa Korban Gempa Donggala dan Palu Bisa Lanjut Kuliah Melalui E-Learning

"CAD bisa ditekan di bawah 2,8% dari produk domestik bruto (PDB), tetapi efeknya ke CAD kecil karena hanya sisa dua bulan. Dari kenaikan harga ke pengurangan konsumsi BBM sampai ke impor yang turun ada lag-nya. Impor BBM juga berdasarkan kontrak jangka panjang," tutur Bhima kepada Kontan.co.id, Kamis (11/10).

Mayat Bayi Laki-laki Ditemukan Terbungkus Keresek, Kondisinya Memprihatinkan

Sebelumnya, Bhima memperkirakan, CAD tahun ini berkisar 3% dari PDB. Bahkan CAD bisa mencapai hingga 3,1% bila defisit perdagangan melebar.

Meski CAD tahun ini dapat ditekan, namun kenaikan harga BBM premium akan berimbas secara signifikan ke daya beli dan kenaikan inflasi.

Editor: Kisdiantoro
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved