Amal Mulia Bersama IJTI Jabar Gelar Acara Galang Dana untuk Korban Gempa Palu-Donggala

Kegiatan amal yang digelar di Cikapundung River Spot, Jalan Cikapundung Barat, Kota Bandung itu diwarnai sejumlah penampilan musik dan puisi

Amal Mulia Bersama IJTI Jabar Gelar Acara Galang Dana untuk Korban Gempa Palu-Donggala
ISTIMEWA
Relawan Yayasan Amal Mulia, Riffa Anggadhitya (tengah), saat berbagi pengalamannya menjadi relawan yang berada di Palu selama lima hari pasca gempa, pada acara charity Penggalangan Dana untuk Korban Bencana Gempa Bumi dan Tsunami di Palu dan Donggala, di Cikapundung River Spot, Jalan Cikapundung Barat, Kota Bandung, Kamis (11/10/2018). 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG -  Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Jabar menggelar kegiatan charity Penggalangan Dana untuk Korban Bencana Gempa Bumi dan Tsunami di Palu dan Donggala, bersama Pemprov Jabar, Komunitas Musisi Mengaji (Komuji), dan Yayasan Harapan Amal Mulia, Kamis (11/10/2018).

Kegiatan amal yang digelar di Cikapundung River Spot, Jalan Cikapundung Barat, Kota Bandung itu sesuai dengan rilis dari Yayasan Harapan Amal Mulia, diwarnai sejumlah penampilan musik dan puisi dari anggota Komuji.

Menurut Ketua IJTI Jabar, Iman S Nurdin, kegiatan amal ini ditujukan bagi korban gempa Palu dan Donggala di Sulawesi Selatan.

"Kami terketuk untuk membantu saudara kami di Sulawesi Tengah. Nantinya sumbangan akan kami tunggu di Sekretariat IJTI Jabar, sebelum didistribusikan langsung ke Palu," kata Iman.

Kulineran Malam Dengan Berbagai Olahan Sayap Ayam Super Nikmat di Wingz O Wingz Cabang BKR [VLOG]

Sepuluh Kecamatan Bisa Tenggelam, Kota Bandung Rawan Likuifaksi [VIDEO TEASER]

Sementara itu salah seorang relawan Yayasan Amal Mulia, yang datang ke Palu pasca gempa, Riffa Anggadhitya, menjelaskan bahwa kondisi di Palu pada lima hari pasca gempa masih belum kondusif.

"Saya kebetulan relawan dari Bandung yang datang pertama kali. Perjalanan ke Palu dari Bandung sendiri, memakan waktu empat sampai lima hari," tutur Rifa di hadapan pengunjung kegiatan charity di Cikapundung River Spot, Kamis sore.

Riffa menjelaskan, kondisi di Palu pada lima hari pasca gempa sangat di luar dugaan.

"Bantuan yang datang, saat itu tanggal 1 Oktober masih berada di kapal perang KRI TNI AL, dan relawan yang datang pertama kali tanggal 2 Oktober turun ke Palu melihat kondisi Palu sangat memprihatinkan," paparnya.

Selain fenomena sebagian pengungsi Palu yang melakukan penjarahan, potret masyarakat Palu yang banyak mendirikan tenda pengungsian di pedalaman sangat membuat prihatin para relawan.

"Kami memberikan bantuan kepada masyarakat itu selepas Magrib, supaya lebih aman. Kalau siang hari kami tak berani membagikan karena khawatir dijarah di jalan," ungkapnya.

Politisi PDI-P Ini Ultimatum Amien Rais Minta Maaf kepada Kapolri

Sandiaga Uno Tawarkan Solusi Soal Bahan Baku Impor yang Dikeluhkan Pengusaha Batik Cirebon

Halaman
12
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved