Ini Tips Agar Generasi Milenial Tidak Depresi Menghadapi Permasalahan

Generasi milenial merupakan jiwa muda yang berapi-api, begitulah semboyan kepada mereka yang cenderung berani bertindak tanpa memikirkan risiko.

Ini Tips Agar Generasi Milenial Tidak Depresi Menghadapi Permasalahan
Tribun Jabar/Fasko Dehotman
Kegiatan Training kesehatan mental Oleh CEO Teman Ceritera, Maulana Fikri. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Fasko Dehotman

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Generasi milenial merupakan jiwa muda yang berapi-api, begitulah semboyan kepada mereka yang cenderung berani bertindak tanpa memikirkan risiko.

Sehingga, tak sedikit anak generasi milenial memiliki mental yang lemah dan tidak siap menghadapi resiko dalam permasalahan kehidupan mereka.

CEO Teman Ceritera, Maulana Fikri, mengatakan, saat ini banyak generasi milenial yang terjangkit "penyakit" pada kesehatan mentalnya.

Teman Ceritera adalah startup platform media, dalam bidang edukasi dan jasa kesehatan mental yang berlokasi di Jalan Geger Kalong agirang No 70, Bandung.

Setelah Kalah dari Madura United, Persib Alihkan Fokus pada Dua Pertandingan di Jayapura

Kabar Gembira, Gaji Guru Honorer yang Tak Lolos CPNS dan PPPK bakal Dinaikan oleh Pemerintah

Ini Tips Bikin Gallery Instagram Keren biar Banyak Follower

"Saat ada masalah, rata-rata anak generasi milenial tidak tahu harus bertindak apa. Hingga beberapa mahasiswa atau pun pelajar lainnya, memilih mengakhiri hidupnya karena berbagai masalah yang dihadapi, entah itu karena stress, depresi, dan lain-lain," ujar Maulana kepada Tribun Jabar, ditemui di kantor IMH Grup, Jalan Geger Kalong Agirang No 70, Bandung, Senin (8/10/2018) siang.

Menurut Maulana, hal tersebut perlu mendapat perhatian khusus dari orang tua maupun stake holder terkait, agar mengurangi resiko lemahnya mental pada generasi milenial.

"Untuk mengatasi keterpurukan mental tersebut, sebenarnya bisa dilakukan sendiri oleh generasi milenial dengan beberapa tips yang mudah, dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," kata Maulana.

Tips yang dimaksudkan itu di antaranya adalah harus berani curhat dengan orang tua maupun ke teman dekat, tentang permasahan yang tengah didahapi.

"Dengan curhat, tentunya perasaan kita akan lebih legah bukan? karena tidak lagi dipendam sendiri. Selain itu, curhatan kita juga mampu menarik simpati orang lain untuk membantu menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi. Karena rata-rata orang terdekat kita pasti tergerak hatinya, saat mendengarkan permasalahan kita," jelas Maulana.

Selain curhat, generasi milenial juga harus aktif mengikuti pelatihan pengembangan mental yang diadakan intansi maupun gerakan tertentu.

"Tujuannya tidak lain untuk mengedukasi generasi milenial agar mengembangkan mental dan kejiawaan mereka supaya lebih terarah, serta menjawab berbagai kebutuhan psikologi anak muda," ujar Maulana.

Selanjutnya adalah, segera konsultasi ke psikolog apabila generasi milenial mengalami depresi yang cukup berat.

"Alasannya, psikolog lah yang jauh lebih mengerti dan tanggap mengatasi depresi melalui proses konseling yang rutin. Dengan begitu, mereka yang konsultasi akan merasa lebih tenang dan mentalnya pun tidak mudah tergangu,' ujar Maulana.

Maulana berharap, dengan tips-tips tersebut, semoga dapat membentuk mental yang sehat, serta pribadi yang lebih baik untuk generasi milenial kedepannya. (*)

Penulis: Fasko dehotman
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help