Warga Hegarmanah, Jatinangor, Harapkan Ada Tempat Penampungan Air Komunal

Saat dilanda kemarau saat panjang ini, sebagian warga, mengaku kesulitan mendapatkan pasokan air bersih, sehingga menghambat aktivitas warga.

Warga Hegarmanah, Jatinangor, Harapkan Ada Tempat Penampungan Air Komunal
Tribun Jabar/ Hakim Baihaqi
Nanih (52), warga Kampung Neglasari, Desa Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Warga Kampung Neglasari, Desa Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, mengharapkan adanya tempat penampungan air komunal untuk kebutuhan sehari-hari.

Saat dilanda kemarau saat panjang ini, sebagian warga, mengaku kesulitan mendapatkan pasokan air bersih, sehingga menghambat aktivitas warga.

Untuk mengatasi kesulitan pasokan air bersih, secara sengaja, warga membuat saluran air pribadi ke setiap rumah dari mata air Neglasari yang berada tidak jauh dari permukiman warga.


Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Tribun Jabar, kesulitan mendapatkan air bersih mulai dirasakan oleh warga sejak 4 bulan terakhir.

Kustian (46), selama musim kemarau ini, belum ada pasokan air bersih dari pemerintah, sehingga, warga masih memanfaatkan mata air Neglasari untuk kebutuhan sehari - hari.

"Keinginan kami tidak banyak, buat penampung toren (penampung air) besar saja, biar aman, supaya tidak ada warga yang bolak-balik ambil air," kata Kustian di Kampung Neglasari, Jumat (5/10/2018).

Jadwal MotoGP Thailand 2018 - Vinales dan Valentino Rossi jadi yang Tercepat di PF 1

Kustian menambahkan, air sumur yang berada di rumah miliknya dan sebagian warganya, kondisinya keruh, kotor dan tidak bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari - sehari.

"Berharap saja hujan segera turun, sudah lelah," katanya.

Nanih (52), warga lainnya, mengatakan, terhitung sejak tiga bulan terakhir, sumur sedalam 11 meter berada tepat di samping kediamannya, dalam kondisi surut dan air tersebut berwarna kuning pekat, sehingga tidak layak untuk dikonsumsi.

Agar pasokan air tetap terpenuhi, bermodalkan dua buah ember ukuran sedang, Nanih setiap harinya harus berjalan menuju mengambil air sumber mata yang masih tersisa, yaitu Mata Air Neglasari.

Berjarak 500 meter dari kediamamnya, Nanih terpaksa berjalan melintasi pematang sawah dan jalan setapak menanjak, hanya untuk mendapatkan air untuk kebutuhan konsumsi keluarganya.

"Semoga hujan kembali turun, air hujan turun, kadang - kadang suka sakit pinggang waktu angkut air, kalau musim hujan kan gampang, air sumur banyak," katanya.

Guru SD Juara Wajib Menguasai Cara Evakuasi bila Terjadi Bencana, Ini Alasannya

BPBD Kuningan Akui Belum Mengetahui Penyebab Kebakaran di Gunung Ciremai

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Seli Andina Miranti
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved