Dampak Kemarau Panjang, Ibu Ini Harus Berjalan 500 Meter untuk Dapat Air Bersih

"Untuk usia seperti saya ini, ember berisi air ini sangat berat. Tapi kalau tidak dilakukan, untuk kebutuhan minum dan memasak harus pakai air dari ma

Dampak Kemarau Panjang, Ibu Ini Harus Berjalan 500 Meter untuk Dapat Air Bersih
Tribun Jabar/Hakim Baihaqi
Nanih (52), warga Kampung Neglasari, Desa Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Nanih (52), warga Kampung Neglasari, Desa Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, harus merasakan dampak kemarau panjang yang melanda kampung tersebut sejak enam bulan terakhir.

Pada kemarau panjang tahun ini, Nanih, seorang ibu rumah tangga yang memiliki tiga orang anak, mengeluhkan susahnya mendapatkan pasokan air bersih untuk kebutuhan minum dan masak.

Terhitung sejak tiga bulan terakhir, sumur sedalam 11 meter yang berada tepat di samping kediamannya, dalam kondisi surut dan air di dalamnya berwarna kuning pekat, sehingga tidak layak untuk dikonsumsi.

Agar pasokan air tetap terpenuhi, bermodalkan dua buah ember ukuran sedang, Nanih setiap harinya harus berjalan menuju sumber mata air Neglasari untuk mengambil air.


Spanduk Protes Kepada PSSI Akan Ditertibkan Satpol PP

Nikita Mirzani Gagal Konfrontir dengan Dipo Latief, Pengacara Bilang Dia Muntah-muntah sedang Hamil

Berjarak 500 meter dari kediamamnya, Nanih terpaksa berjalan melintasi pematang sawah dan jalan setapak menanjak, hanya untuk mendapatkan air untuk kebutuhan konsumsi keluarganya.

Di usianya yang sudah tidak muda lagi ini, Nanih harus mengangkat dua ember berisi air di tengah terik matahari. Setiap 30 meter sekali, terpaksa berhenti di sisi jalan kecil untuk menghela napas.

"Untuk usia seperti saya ini, ember berisi air ini sangat berat. Tapi kalau tidak dilakukan, untuk kebutuhan minum dan memasak harus pakai air dari mana," ujar Nanih di sekitar lokasi Mata Air Neglasari, Jumat (5/10/2018).

Aktivitas melelahkan fisik itu, menurut Nanih, sudah dilakukan sejak lima tahun lalu, sebelum banyak bangunan berdiri di sekitar Kampung Neglasari.

Berbeda dengan warga lainnya, rumah milik Nanih, hanya satu-satunya yang tidak memiliki sambungan paralon air dari sumber, sehingga aktivitas pengangkutan air hanya dilakukan ia seorang.

"Yang lain pada punya pipa paralon dari mata air ke rumah, cuma saya saja tidak. Buat sambungan itu mahal, harus ada Rp 2 juta lebih, suami saya cuma buruh serabutan," ujar Anih.

Sebaliknya, untuk kebutuhan mandi serta mencuci, ia memanfaatkan air yang berasal aliran sungai kecil di belakang rumah dan tetap harus berjalan terlebih dahulu.

Nanih berharap, kemarau panjang yang melanda di tahun ini segera berakhir dan hujan kembali turun, sehingga satu-satunya sumber air milik keluarga Anih kembali terisi.

"Kadang-kadang, suka sakit pinggang waktu angkut air, kalau musim hujan kan gampang, air sumur banyak," katanya.

Tak Bisa Daftar CPNS 2018 Karena Lupa Password? Jangan Khawatir, Gunakan Cara Ini

Wagub Jabar Minta BJB Segera Gelar RUPS Sebelum Tutup Tahun

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Theofilus Richard
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved