Pengrajin Batik Keluhkan Produk Impor, Ini Kiat untuk Membedakannya dengan Batik Lokal
Sekilas, batik yang banyak dijual di toko-toko besar akan dikira sebagai batik hasil perajin di Indonesia.
Penulis: Firman Wijaksana | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana
TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Orang awam akan sulit membedakan produk batik lokal dan batik impor.
Sekilas, batik yang banyak dijual di toko-toko besar akan dikira sebagai batik hasil perajin di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan pemilik batik Garutan SHD, Agus Sugiarto (53), ketika ditemui TribunJabar di Jalan Pembangunam 128, Selasa (2/10/2018).
"Yang dijual di toko itu paling batik impor dari Cina. Harganya saja di bawah Rp 100 ribu. Kalau batik lokal harganya di atas Rp 200 ribu," kata Agus Sugiarto.
Rachel Maryam Benarkan Ratna Sarumpaet Dianiaya Sampai Babak Belur, Begini Kondisi Terbarunya https://t.co/Jm6aIAhfdw via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) October 2, 2018
Agus memberi tips untuk membedakan produk batik lokal dan impor. Pertama batik impor biasanya dibuat menggunakan mesin. Cetakan gambar dan catnya sangat rapih. Warna yang dihasilkan bisa lebih dari empat.
"Kalau batik lokal walau batik cap itu hanya bisa tiga warna. Terus warnanya sering ada yang keluar garis. Kalau yang impor sangat rapih warna dan garisnya," ucapnya.
Ia berharap di hari batik nasional, produk lokal bisa menjadi unggulan di negeri sendiri. Menurutnya, banyak pegawai pemerintah dan swasta yang sudah mengenakan batik. Namun batik yang digunakan banyak yang bukan produk lokal.
"Hari batik itu bukan sekedar hanya pakai batik. Tapi minimal tahu batik lokal dan bisa memakainya," ujarnya.
• Informasi Terbaru BNPB: Jumlah Korban Tewas Akibat Gempa dan Tsunami di Sulteng Mencapai 1234 Korban
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/batik-garutan_20181002_151430.jpg)