Pileg 2019

Dedi Mulyadi Targetkan Golkar Dapat 25 Kursi di Jawa Barat

Mantan Bupati Purwakarta dua periode, Dedi Mulyadi menunjukkan sikap optimisnya di depan Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto.

Dedi Mulyadi Targetkan Golkar Dapat 25 Kursi di Jawa Barat
Istimewa
Dedi Mulyadi di acara seminar nasional "Golkar Kembali ke Akar Rumput, Solusi Menurunnya Ekektabilitas Golkar, 2019 Golkar Menang" di Kantor DPD I Partai Golkar Jabar di Bandung, Selasa (18/9/2018). 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi menargetkan Partai Golkar mendapatkan 25 kursi khusus untuk daerah Jawa Barat.

Hal tersebut disampaikan Dedi Mulyadi saat memberikan sambutan pada acara seminar nasional "Golkar Kembali ke Akar Rumput, Solusi Menurunnya Ekektabilitas Golkar, 2019 Golkar Menang" di Kantor DPD I Partai Golkar Jabar di Bandung, Selasa (18/9).

Mantan Bupati Purwakarta dua periode, Dedi Mulyadi menunjukkan sikap optimisnya di depan Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto.

"Kalau ketua umum kan targetnya 20 kursi di Jawa Barat. Kalau saya yakin Golkar dapat 25 Kursi di Jawa Barat," kata Dedi Mulyadi yang akrab disapa Demul.

Manfaat Daun Kemangi alias Surawung yang Belum Banyak Diketahui

"Optimis kan boleh, nah saya optimis Golkar dapat 25 Kursi. Melampaui target 20 kursi," tambahnya.

Untuk mewujudkan harapan tersebut, Dedi Mulyadi meminta para bakal calon anggota legislatif (Bacaleg) dari Partai Golkar turun langsung ke masyarakat untuk menyerap aspirasi dan kampanyekan diri serta Partai Golkar di pileg 2019 nanti.

"Para caleg jangan terlalu banyak menggelar acara seremonial, lebih baik langsung turun ke masyarakat, mengunjungi rumah-rumah warga, door to door," kata Dedi Mulyadi.

Jadi Penentu Kemenangan Persib saat Kontra Borneo FC, Ini Komentar Ghozali

Turun langsung menyerap aspirasi masyarakat dan door to door dinilai Dedi Mulyadi merupakan cara yang sangat efektif untuk meraih suara masyarakat. Menurut Demul, hal ini dikarenakan digelar serentaknya pilpres dan pileg 2019.

"Ini karena Pilpres dan Pileg berbarengan, jadi pileg 2019 kalah populer di tengah masyarakat," kata Dedi Mulyadi.

"Pemilihan legislatif nyaris tidak ada gaungnya di televisi, media sosial, atau percakapan sehari-hari. Ini harus kita waspadai, jangan sampai masuk bilik suara, pikiran warga cuma untuk pilih presiden," tambahnya.

Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved