Pilpres 2019

Dedi Mulyadi : Berdebatlah dengan Bahasa Rakyatnya

Ketua DPD I Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengkritik wacana debat calon presiden menggunakan bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Dia mengatakan bahwa r

Dedi Mulyadi : Berdebatlah dengan Bahasa Rakyatnya
istimewa
Dedi Mulyadi 

TRIBUNJABAR.ID - Ketua DPD I Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengkritik wacana debat calon presiden menggunakan bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Dia mengatakan bahwa rakyat Indonesia itu bukan bangsa Arab atau Inggris.

"Jadi jangan ribut urusan debat Bahasa Inggris ataupun Arab, berdebatlah dengan bahasa rakyatnya karena yang dipimpin itu rakyat Indonesia," kata Dedi kepada Kompas.com, Sabtu (15/9/2018).

Menurut Dedi, kalau ingin menjadi pemimpin Indonesia yang mengerti budayanya sendiri, debat capres bisa dengan beragam bahasa daerah lengkap dengan baju daerahnya.

"Misalnya, debat dengan bahasa Sunda pakai iket kepala dan pangsi. Debat dalam bahasa bugis pakai baju khas bugis," katanya.

Lanjut Dedi, pemimpin itu bukan sekadar harus memahami bahasa asing sebagai bahasa pergaulan internasional, tetapi juga harus mengerti budayanya agar tidak salah dalam kebijakan.

"Dia harus mengerti bahasa rakyatnya. Yang mengerti bahasa rakyatnya itu adalah pertama bahasa dialektika bahasa daerahnya. Kedua keinginannya dari mulai bahasa tubuh dan budayanya. Karena kita hidup bukan dari orang asing. Kita hidup dari kekayaan dan kebudayaan yang kita miliki," ujar Dedi Mulyadi.

Dedi mengatakan, seorang pemimpin disebut mencintai Indonesia harus diuji tentang pemahaman budayanya.

Kocak, Purwanto Terang-terangan Minta Sepeda ke Presiden Jokowi

Jefri Nichol dan Amanda Rawles Balikan Menjadi Pasangan di Film Something In Between

Anisa Rahma Menikah dengan Penyanyi Religi di Bandung

"Kalau ternyata dia tidak bisa dan tidak pernah mempelajari bahasa leluhurnya, berarti kecintaan terhadap Indonesianya hanya kamuflase," kata Mantan Bupati Purwakarta ini.

Dedi memandang bangsa Indonesia mengalami krisis kepercayaan diri. Bangsa Indonesia lebih menyukai bahasa dan budaya asing ketimbang milik sendiri.

Dedi mengatakan, belajar dari orang Arab, Tiongkok, dan Jepang, di manapun mereka berada memahami dan menguasai budaya leluhurnya.

Halaman
12
Editor: Theofilus Richard
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved