Rupiah Melemah

Rupiah Melemah, Pedagang Tempe Kelimpungan, Harga Naik Pelanggan Kabur, Terpaksa Ukuran Jadi Kecil

Pedagang khawatir kalau kondisi ini terus berlangsung lama, banyak perajin tempe skala rumahan yang gulung tikar.

Rupiah Melemah, Pedagang Tempe Kelimpungan, Harga Naik Pelanggan Kabur, Terpaksa Ukuran Jadi Kecil
Tribun Jabar/Hilman Kamaludin
Para pekerja di industri tempe tengah mengolah kedelai impor. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Haryanto

TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Masih lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USS), menjadikan sejumlah produsen tempe rumahan di Purwakarta merasakan dampaknya.

Khusunya bagi bahan baku tempe yang berasal dari kacang kedelai impor, yang dipastikan harganya tinggi seiring dolar yang terus melejit.

Seperti halnya yang dikatakan oleh pengrajin tempe, Selamet Teguh (45) yang memproduksi tempe di rumahnya, Kampung Sukajadi, Nagri Kidul, Purwakarta.

Ia mengaku kebingungan akan usahanya, sebab harga kedelai yang kebanyakan barang ekspor dari Amerika Serikat tersebut harganya melonjak.

Andrea Dovizioso Tercepat pada Hari Pertama di San Marino tapi Belum Temukan Setelan yang Sempurna

"Ya berdampak, sekarang harga kedelai per kuintalnya sudah mencapai Rp 770 ribu. Padahal sebelumnya hanya masih Rp 600 ribu sampai Rp 700 ribu," kata Slamet di rumahnya, Jumat (7/9/2018).

Sebagai produsen kecil, dia berharap nilai tukar IDR Terhadap USD bisa kembali menguat.

Ia khawatir kalau kondisi ini terus berlangsung lama, banyak perajin tempe skala rumahan yang gulung tikar.

Kini, Slamet mengaku harus berpikir keras agar usaha yang menghidupi keluarga dan pekerjanya tetap berjalan.

Rupiah Melemah, Beredar Pesan Berantai BBM akan Naik, Pertamina Respons Cepat, Ini Penjelasannya!

"Produksi gak mungkin dikurangi. Kalau harga tempenya dinaikin juga pembeli pada kabur. Paling ukuran tempe jadi diperkecil atau terpaksa margin keuntungan dikurangi 3 persen," ucap dia.

Hal yang sama dikeluhkan juga oleh produsen tempe lainnya, Suhaeni (55), yang menjadi produsen tempe rumahan di Kampung Sukasari, Desa Cibogohilir, Plered.

Ia, berusaha keras untuk tetap bisa produksi. Meski harga bahan baku utama tempe kini sedang tinggi karena dollar yang hampir Rp 15ribu.

Hadir Dengan Kosep Makan Besar, ini 5 Kelebihan yang Anda Dapatkan di Jumbo Eatery

Dia mengaku selama menjadi pembuat tempe, baru kali ini produksi tempenya terasa cukup berat karena harga bahan dasar tempe yang meningkat.

“Kalau harga tempe tiba-tiba dinaikan, pembeli otomatis jadi susah. Sepertinya saya tidak akan menaikan harga tempe, tapi ukurannya yang akan sedikit saya kecilkan. Agar menyeimbangkan biaya," kata Suhaeni.

Penulis: Haryanto
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help