Bolehkah Berkurban dengan Cara Utang? Ini Penjelasannya

Namun, bagaimana bila tak bisa membeli hewan kurban dengan uang sendiri?

Bolehkah Berkurban dengan Cara Utang? Ini Penjelasannya
Tribun Jabar/Hilman Kamaludin
Sapi di Tempat Penjualan Hewan Kurban Doa Ibu, Jalan Budi, Kota Cimahi 

TRIBUNJABAR.ID - Melaksanakan ibadah berkurban memiliki manfaat yang sangat besar.

Ibadah ini dilakukan setahun sekali pada saat Idul Adha.

Hewan qurban biasanya disembelih setelah melaksanakan salat Idul Adha.

Tak sedikit orang yang ingin menjalankan ibadah ini karena ganjarannya yang begitu besar.

Namun, bagaimana bila tak bisa membeli hewan kurban dengan uang sendiri?

Membeli hewan kurban dengan cara utang atau meminjam uang kepada saudara diperbolehkan.

Melansir dari muslim.go.id, hal tersebut tidak dilarang sebab kurban memiliki manfaat yang besar.

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.” (QS. Al Hajj: 36).

Ibnu Katsir menjelaskan kata kebaikan yang dimaksud dalam ayat tersebut, yakni balasan pahala untuk bekal di akhirat.

Sementara Mujahid mengatakan yang dimaksud kebaikan adalah pahala dan maanfaatnya.

Kurban dapat membawa manfaat bagi umat muslim dalam jumlah yang besar.

Maka dari itu, seorang muslim sebisa mungkin melakukan kurban meski dengan cara berutang.

Lihat contoh dari ulama salaf seperti Abu Hatim berikut ini.

Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan, ”Dulu Abu Hatim pernah mencari utangan dan beliau pun menggiring unta untuk disembelih. Lalu dikatakan padanya, ”Apakah betul engkau mencari utangan dan telah menggiring unta untuk disembelih?” Abu Hatim menjawab, ”Aku telah mendengar firman Allah,

لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ

“Kamu akan memperoleh kebaikan yang banyak padanya.” (QS. Al Hajj: 36)” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 5: 415).

Hukum berkurban dengan cara berutang juga dijelasakan dalam Fatwa Islam Web No 7198.

"“Siapa yang tidak mendapati kecukupan harta untuk membeli hewan qurban, maka hendaklah ia membeli qurban dengan cara berutang (menyicil) atau dibayar pada waktu akan datang yang telah disepakati (dijanjikan).

Jika seseorang berqurban dalam keadaan berutang seperti ini, qurbannya sah, tidak ada masalah baginya.

Bahkan sebagian ulama ada yang menganjurkan bagi orang yang tidak mendapati harta saat berqurban supaya ia mencari pinjaman untuk membeli hewan qurban dengan catatan ia mampu untuk melunasi utangnya.

Hal ini tidaklah masuk dalam masalah orang yang tidak punya kelapangan rezeki. Namun saat ingin berqurban, ia tidak punya kecukupan harta untuk membeli hewan qurban padahal ia sudah terkena perintah berqurban. Karena kenyataannya ia termasuk oramg yang mampu. Maka saat itu hendaklah ia berutang untuk tetap bisa berqurban."

Berkurban untuk Orang yang Sudah Meninggal

Ustaz Abdul Somad dalam sebuah ceramahnya juga sempat membahas mengenai boleh atau tidaknya berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia.

Menurut Ustaz Abdul Somad, terdapat empat mazhab terkait hal ini.

Pertama, menurut mazhab Hanafi, berkurban untuk orang yang sudah meninggal boleh saja.

"Boleh tapi dagingnya tidak boleh dimakan. Bagikan semua dagingnya ke fakir miskin," ujar Ustaz Abdul Somad.

Kedua mahzab Maliki. Menurut mahzab ini, kurban untuk orang yang sudah meninggal boleh dilakukan asal ada wasiat.

"Boleh kalau meninggalkan wasiat, kalau tidak ada wasiat, tiba-tiba dia buat sendiri untuk bapaknya, makruh," kata UAS.

"Pahalanya ada tapi perbuatan dia membuat itu (kurban), makruh," tambahnya.

Ketiga, mahzad Syafi'i. Ustaz Abdul Somad mengatakan, jangan melakukan kurban untuk orang yang sudah meninggal bila tidak ada wasiat.

"Kalau tidak ada meninggalkan wasiat, jangan dibuat," ujarnya.

Terakhir, mahzab Hambali. Seseorang bisa berkurban untuk orang yang meninggal menurut mahzab ini.

Daging kurbannya pun boleh dimakan dan tidak memerlukan wasiat.

"Tidak perlu wasiat, dagingnya boleh dimakan, dan pahalanya sampai. Dalam hal ini pilihlah Hambali," ujar Ustaz Abdul Somad.

Selain penjelasan dari Ustaz Abdul Somad, ada tiga rincian kurban untuk orang yang sudah meninggal. Berikut ulasannya, mengutip dari muslim.or.id:

Pertama, kurban untuk orang yang sudah meninggal hanya sebagai ikutan.

Contohnya, seseorang berkurban untuk sendiri dan keluarganya, termasuk yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia.

Dasar dari bolehnya hal ini adalah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berqurban untuk dirinya dan keluarganya, termasuk di dalamnya yang telah meninggal dunia.

Bahkan jika seseorang berqurban untuk dirinya, seluruh keluarganya baik yang masih hidup maupun yang telah mati, bisa termasuk dalam niatan qurbannya. Dalilnya,

كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضَحِّى بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

“Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ada seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.”

Kedua, kurban karena ada wasiat.

Hal ini dibolehkan berdasarkan firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 181).

Terakhir adalah kurban dengan niatan khusus untuk orang yang sudah meninggal, bukan sebagai ikutan, maka seperti ini tidak ada sunnahnya (tidak ada contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Nabi Muhammad SAW tidak pernah berkurban untuk salah satu orang yang telah meninggal dunia dengan niatan khusus.

(Tribun Jabar/Fidya Alifa/Indan Kurnia)

Penulis: Fidya Alifa Puspafirdausi
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved