Empat Desa di Kuningan Alami Kekeringan, Warga Harus Naik Turun Bukit Demi Ambil Air Sungai
Namun, menurut Ono, saat siang hari air di Sungai Keil menjadi sedikit keruh sehingga hanya digunakan untuk mandi dan mencuci.
Penulis: Ahmad Imam Baehaqi | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ahmad Imam Baehaqi
TRIBUNJABAR.ID, KUNINGAN - Empat desa di Kecamatan Karangkancana, Kabupaten Kuningan, mengalami kekeringan.
Di antaranya, Desa Simpayjaya, Desa Cihanjoro, Desa Sukasari, dan Desa Tanjungkerta.
Warga di empat desa itupun harus naik turun bukit untuk mencapai sumber air terdekat, yakni Sungai Keil.
Namun, air yang didapat itu tidak selalu dapat dikonsumsi oleh warga.
• Satu Napi Sudah Kembali ke Lapas Sukamiskin, Fuad Amin atau Chaeri Wardana?
"Kalau ambilnya pagi-pagi, airnya masih bisa diminum karena masih jernih," kata Ono warga Desa Simpayjaya, Kecamatan Karangkancana, Kabupaten Kuningan, kepada Tribun Jabar, Sabtu (21/7/2018).
Namun, menurut Ono, saat siang hari air di Sungai Keil menjadi sedikit keruh sehingga hanya digunakan untuk mandi dan mencuci.
Ia mengatakan, warga biasa membeli air untuk keperluan memasak dan minum.
Cerita Annisa, Anggota Tim Muhibah, Tim Angklung Bandung yang Ngamen di Eropa Karena Kurang Biaya https://t.co/UKahNdf4Rn via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) July 21, 2018
Kondisi tersebut, kata Ono, sudah terjadi sejak dua bulan terakhir.
"Airnya memang sedikit kotor tapi enggak ada sumber lain, jadi terpaksa," ujar Ono.
Ia mengatakan, warga dari tiga desa lainnya juga mengambil air dari Sungai Keil tersebut.
Pasalnya, sungai itu lokasinya berdekatan dengan Desa Cihanjoro, Desa Sukasari, dan Desa Tanjungkerta yang sama-sama tengah dilanda kekeringan.
Padahal, untuk mencapai sungai itu warga harus berjalan kaki sejauh kira-kira 1 kilometer.
Jalan setapak yang ditempuh juga didominasi kawasan perkebunan milik warga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ambil-air_20180721_192324.jpg)