Pileg 2019

Pengamat Politik Sebut Fenomena Kutu Loncat di Pileg 2019 Sebagai Kemunduran di Internal Parpol

Jenjang proses kaderisasi di partai itu sendiri, dikatakan Adiyana, harus diikuti semua oleh calon legislatif dari partai politik.

Pengamat Politik Sebut Fenomena Kutu Loncat di Pileg 2019 Sebagai Kemunduran di Internal Parpol
ISTIMEWA
Pengamat Komunikasi Politik sekaligus Direktur Lingkar Kajian Komunikasi Politik dari Universitas Komputer Indonesia (Unikom) Bandung, Adiyana Slamet. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Yongky Yulius

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pengamat komunikasi politik FISIP Unikom Bandung, Adiyana Slamet, menyebut, fenomena anggota legislatif yang berpindah partai politik menjelang Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, dianggap sebagai kemunduran demokrasi di dalam internal parpol.

"Problem kepartaian di Indonesia hari ini, kalau bahasa 2017 itu memang defisit demokrasi atau resesi demokrasi. Partai itu mengalami kemunduran, kaderisasi itu seolah-olah mandet," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (19/7/2018).

Jenjang proses kaderisasi di partai itu sendiri, dikatakan Adiyana, harus diikuti semua oleh calon legislatif dari partai politik.

Tujuannya, agar demokrasi internal partai itu sendiri berjalan dengan baik.

"Kader-kader partai terbaik yang memenuhi syarat biasanya harus melalui proses kaderisasi tingkat pertama sampai akhir," katanya.

Lebih lanjut Adiyana, mengatakan, para anggota legislatif yang berpindah partai politik juga disebutnya berpotensi merusak mekanisme partai.

Bahkan. kata dia, bukan tak mungkin akan berdampak pada konflik di internal partai politik.

"Kalau istilah tahun 2000 inilah orang-orang indekos di parpol atau kutu loncat, sehingga akan merusak ritme internal partai yang kemudian efeknya akan konflik internal gesekan antar kader didalam," ujar Adiyana.

Ia menjelaskan, kader-kader militan partai yang sejak dahulu mengikuti proses kaderisasi partai politik untuk maju sebagai calon legislatif, akan dengan mudahnya tergeser oleh orang-orang atau anggota legislatif yang ingin maju kembali dalam pileg 2019 dengan partai yang berbeda.

"Pada proses itu kader yang lama membangun parpol itu ditempatkan pada nomor urut besar, sedangkan yang berpindah partai itu no urut 1 atau 2 dan 3, sebenarnya hal ini menjadi citra buruk bagi mekanisme partai itu sendiri," kata Adiyana.

Penulis: Yongky Yulius
Editor: Fauzie Pradita Abbas
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved