Caci, 'Tarian Perang' asal Manggarai Flores yang Justru Tak Lahir dari Perang

Lalu bagaimana tarian caci itu lahir? Setidaknya, ada tiga versi yang mencuat dalam diskusi festival "Ata Manggarai".

Caci, 'Tarian Perang' asal Manggarai Flores yang Justru Tak Lahir dari Perang
Tribun Jabar/Tarsisius Sutomonaio
Tarian caci dipentaskan di festival budaya "Ata Manggarai" di Gedung Kesenian Dewi Asri ISBI, Kota Bandung, Sabtu (14/7/2018). 

TRIBUNJABAR.ID- Tarian caci menjadi satu di antara budaya Manggarai, Flores, NTT, yang diperkenalkan dalam festival budaya bertema "Ata Manggarai".

Acara ini digelar Perkumpulan Muda-mudi Manggarai Bandung (PM3B) di Gedung Kesenian Dewi Asri ISBI, Bandung, Sabtu (14/7/2018).

Caci adalah tarian perang menggunakan cambuk. Dua pemain caci bergantian mencambuk dan menangkis cambukan.

Sebagian besar alat-alat yang dipakai dalam caci, termasuk cambuk (larik) dan alat penangkis (nggiling), terbuat dari kulit kerbau.

Lalu bagaimana tarian caci itu lahir? Setidaknya, ada tiga versi yang mencuat dalam diskusi festival "Ata Manggarai".

Pertama, caci dianggap sebagai miniatur perang satu lawan satu yang terjadi pada masa lalu.

"Perang tak terjadi terus-menerus lalu direprentasi dalam produk kultur," ujar narasumber diskusi Fransiskus Borgias M.

Begini Cara Bos PT SBL Menipu dan Gelapkan Uang Ratusan Miliar Rupiah Milik Calon Jemaah Umrah

Kedua, caci merupakan ritual pesta kesuburan. Fransiskus mengutip versi ini dari Maribeth Erb Mucek, antropolog asal National University of Singapore.

Maribeth Erb Mucek termasuk antropolog yang rajin membuat penelitian soal Manggarai.

Satu di antara tulisannya soal Manggarai adalah "Shaping a 'New Manggarai': Struggles over Culture and Tradition in an Eastern Indonesian Regency".

Halaman
1234
Penulis: Tarsisius Sutomonaio
Editor: Yudha Maulana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved