Petani Kopi di Kabupaten Garut Dianggap Belum Merasakan Kejayaan Kopi Garut

Seorang produsen kopi dari Kecamatan Bayonbong atau pemilik Mahkota Java Coffee, Heri Yuniardi, membantu 30 persen petani kopi . . .

Petani Kopi di Kabupaten Garut Dianggap Belum Merasakan Kejayaan Kopi Garut
Tribun Jabar/Hakim Baihaqi
Kopi yang dikemas ke dalam karung untuk diekspor ke Taiwan di Mahkota Java Coffee, Jalan Raya Garut-Bayongbong, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Senin (9/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Sejumlah pihak, menyatakan, masih petani kopi di Kabupaten Garut banyak yang belum merasakan kejayaan kopi Garut yang saat ini banyak digandrungi oleh masyarakat.

Berdasarkan informasi yang diterima oleh Tribun Jabar, di Kabupaten Garut ada 184 kelompok petani kopi yang masing-masing kelompok berjumlah 30 hingga 100 orang.

Untuk menyadarkan para petani tersebut, salah seorang produsen kopi dari Kecamatan Bayonbong atau pemilik Mahkota Java Coffee, Heri Yuniardi, membantu 30 persen petani kopi di Kabupaten Garut untuk menyerap gabah kopi setiap masa panen.

PPDB SMP Sistem Zonasi di Kota Cimahi Diakui Kadisdik Perlu Dievaluasi

Arya Menderita GBS dan Koma Sejak 20 Juni 2018, Apa Itu GBS? Berikut Penjelasan Dokter RSHS

Heri menyebutkan, banyak petani kopi di Kabupaten Garut masih belum sadar bila pasar Kopi dari tersebut diminati banyak orang, termasuk dari negara-negara tetangga.

"Euphoria kopi sangat luar biasa dimata para penikmat kopi," kata Heri di tempat Mahkota Java Coffee, Jalan Raya Bayongbong - Garut, Kabupaten Garut, Senin (9/7/2018).

Akibat tidak melihat kejayaan ini, Heri mengatakan, banyak dari petani kopi di Kabupaten Garut yang tidak mampu untuk memproduksi, sehingga hanya menjual dalam bentuk gelondongan (ceri).

"Karena alasan itulah, mereka menjual asal-asalan dan menyampingkan segi kualitas," katanya.

Selain itu, pada 2013, para petani ini pun sempat mengalami trauma begitu mendalam karena harga pada saat itu anjlok menjadi Rp 6 ribu perkilogram untuk jenis gelondongan.

"Semua kabur, setelah tahu kopi turun. Beralih lah mereka ke sayur-sayuran," katanya.

Di beberapa tahun kemudian, kata Heri, tepatnya antara 2017 hingga 2018, harga gelondongan kopi mengalami kenaikan menjadi Rp 10 perkilogram.

"Dari situlah banyak penyesalan dari mereka," katanya.

Diberitakan sebelumnya, untuk kali pertamanya, produsen kopi Mahkota Java Coffee di Kabupaten Garut berhasil mengekspor kopi lokal berjenis arabica ke negara Taiwan.

Dari informasi yang diterima Tribun Jabar, sebanyak 15 ton kopi jenis arabica telah berubah menjadi green bean yang dikemas ke dalam karung-karung berisi 30 kilogram. (*)

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved