Klinik di Bandung Ini Klaim Sanggup Obati Kanker Tanpa Operasi dan Kemoterapi

Selama ini, pasien kanker kerap mengandalkan operasi dan kemoterapi untuk penyembuhannya. Tidak jarang, pengobatan di luar negeri kerap dilakukan.

Klinik di Bandung Ini Klaim Sanggup Obati Kanker Tanpa Operasi dan Kemoterapi
Tribun Jabar/Mega Nugraha
Pembina Klinik CMI Prof Salamun Sastra di Jalan Tubagus Ismail, Jumat (6/7). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha Sukarna

TRIBUNJABAR.ID,BANDUNG - Pusat pengobatan khusus kanker dan diabetes, ‎Klinik Utama Canon Mediciane Indonesia (CMI) resmi beroperasi di Jalan Tubagus Ismail VII, Kota Bandung.‎ Klinik ini mengklaim mengobati kanker tanpa harus operasi dan kemoterapi.

"Kami menerapkan metode pengobatan modern dan tradisional untuk penyembuhan kanker dan diabetes sehingga tanpa harus operasi dan kemoterapi," ujar pembina Klinik CMI Prof Salamun Sastra di Jalan Tubagus Ismail, Jumat (6/7/2018).

Ia mengatakan, Klinik CMI Bandung dirintis sejak 10 tahun lalu. Selama ini, pasien kanker kerap mengandalkan operasi dan kemoterapi untuk penyembuhannya. Tidak jarang, pengobatan di luar negeri kerap dilakukan.

"Selain pengobatan dengan metode komplimenter alternatif yang berintegrasi dengan metode medis moderen, CMI juga mengembangkan pelayanan bio-medis berbasis metode pengobatan Ibnu Sina yang dikenal sebagai pengobatan dari timur tengah," katanya.

Kebakaran Melanda Lahan Kosong dan Bangunan di Cidurian Bandung

Terungkap, Ini Skenario Menghilangnya Nining Selama 1,5 Tahun yang Sebelumnya Disebut Tenggelam

‎Pengobatan komplementer adalah pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi upaya promotif, kuratif, preventif dan rehabilitatif. Yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan berlandaskan pengetahuan biomedik.

"Sebetulnya begini, kanker itu macem-macem. Yang penting kita sudah bisa mengatasi dan mengobati. Nah sekarang pengobatannya bisa dua arah, baik konvensional atau pengobatan modern dan tradisional," kata Salamun.

Salamun mengemukakan, metode komplimenter alternatif atau tradisional yang berintegrasi dengan pengobatan modern sudah diatur dalam Permenkes Nomor 1109 tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pengobatan Komplementer di Fasilitas Layanan Kesehatan, serta Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2014 Tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional.

"Aturan obat tradisional juga sudah ada peraturan. Herbal sudah ada dari dulu. Klinik Utama CMI menjadi pusat pengobatan, pendidikan, pelayanan, dan penelitian. Saya bangga dengan klinik ini karena lengkap dengan laboratorium dan pakar yang ahli di bidang pengobatan kanker dan penyakit lain," ujar dia.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) kanker merupakan penyebab kematian peringkat ke-3 di Indonesia, setelah jantung, dan penyakit menular, maternal, perinatal, dan kondisi gizi.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, lebih dari 30% dari kematian akibat kanker disebabkan oleh enam faktor risiko perilaku dan pola makan. Antara lain, indeks massa tubuh tinggi atau kegemukan, kurang konsumsi buah dan sayur, kurang aktivitas fisik, merokok, dan konsumsi alkohol berlebihan, serta faktor keturunan.

Salah satu dokter Klinik CMI, Susetyo mengatakan CMI merupakan cikaI-bakal menuju pelayanan kesehatan yang mengacu pada peraturan pemerintah yang membolehkan praktik pengobatan komplimenter-alternatif atau tradisional berintegrasi dengan metode pengobatan medis modern.

Menurutnya, CMI Bandung di masa mendatang akan meningkatkan diri menjadi rumah sakit khusus kanker yang memiliki tenaga ahli medis modern dan medis tradisional.

"Perpaduan dua metode ini telah menjadi kekuatan pengobatan kanker di daratan Tiongkok, dimana banyak penderita kanker di Indonesia pergi berobat ke sana. Tersedianya pelayanan serupa di dalam negeri sudah dinanti-nanti banyak pihak. Jadi Klinik Utama CMI yang memadukan pengobatan modern dan tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan ini merupakan satu-satunya di Indonesia," katanya.

Penulis: Mega Nugraha
Editor: Yudha Maulana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help