Menapaki Jejak Eyang Dalem Cikundul, Pendiri Kabupaten Cianjur

Ia diberi tugas menyebarkan agama Islam di wilayah Cianjur, Sukabumi, dan sebagian wilayah Bogor.

Menapaki Jejak Eyang Dalem Cikundul, Pendiri Kabupaten Cianjur
TRIBUN JABAR/FERRI AMIRIL MUKMININ
170 ANAK TANGGA - Makam Eyang Dalem Cikundul di Desa Cijagang, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur. Untuk ke makam itu, pengunjung harus melewati 170 anak tangga. 

TRIBUNJABAR.ID, CIANJUR - MENEMPUH perjalanan sekitar 20 kilometer dari pusat kota Cianjur ke arah Utara setelah melewati Kecamatan Mande masuk ke jalur Cianjur-Jonggol maka sampailah di kawasan Kecamatan Cikalongkulon.

Kawasan pinggiran genangan Cirata ini identik dengan warga yang lalu-lalang dengan alat pancingan di tas punggungnya. Bulan ramadan banyak yang menghabiskan waktu 'ngabuburit' dengan memancing. Tak sedikit remaja yang keluar di sore hari mencari takjil ke kawasan alun-alun kecamatan.

Satu kawasan yang terkenal di kawasan Cikalongkulon ini adalah makam Raden Aria Wiratanu Datar atau yang akrab disapa Eyang Dalem Cikundul. Posisi makamnya berada di sebuah bukit, warga setempat menyebutnya pasir, masuk ke dalam wilayah Desa Cijagang.

Sekitar empat kilometer dari jalur Cikalongkulon-Cariu. Petunjuk arah cukup jelas di pertigaan jalan, jika masuk bulan Mulud maka peziarah dari berbagai daerah akan memadati kawasan Desa Cijagang.

Pendiri Kabupaten Cianjur Eyang Dalem Cikundul membuat kawasan yang awalnya bukit dan pesawahan kini berkembang menjadi ramai. Kios-kios yang menjajakan berbagai makanan dan pakaian akan dijumpai di gerbang masuk kawasan makam Cikundul.

Pelataran parkir yang luas sengaja dibuat, maklum jika sedang bulannya berziarah maka bus besar banyak terlihat di kawasan ini. Beberapa meter sebelum gerbang ada sebuah sungai yang mengalir dan dua jembatan hanya diperuntukkan bagi kendaraan roda dua.

Sebuah masjid terlihat di samping kiri. Beberapa penjaga makam atau yang akrab disapa 'kuncen', akan menyapa ketika Tribun mulai melangkah masuk.

"Asalamualaikum," ujar H Acep Mukti (71), seorang penjaga makam, sambil mempersilakan duduk.

Ia mulai bercerita ringan mengenai pendahulunya yang juga menjadi kuncen makam. Sore kemarin ada sekitar empat orang kuncen yang duduk santai sambil menunggu peziarah yang datang. Acep mengatakan bulan Mulud tahun ini peziarah mengalami penurunan dibanding dengan tahun sebelumnya.

Ia menduga bencana yang membuat jembatan di Jonggol patah menjadi penyebabnya selain banjir di berbagai daerah.

Halaman
1234
Penulis: Ferri Amiril Mukminin
Editor: Ravianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help