Berdayakan Usaha Rintisan, Bandung Initiative Movement Gelar Pesantren Startup

Semakin kokohnya startup di Indonesia, menurut Nur Islami Javad (Jeff), terlihat dari munculnya empat 'unicorn' asli Indonesia

Berdayakan Usaha Rintisan, Bandung Initiative Movement Gelar Pesantren Startup
TRIBUN JABAR/KEMAL SETIA PERMANA
Pesantren Startup di Bandung Creative Hub, Sabtu (2/6/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Kemal Setia Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dalam tiga tahun terakhir, entrepreneur di Indonesia menunjukkan grafik peningkatan.

Hal ini ditandai dengan bermunculannya ribuan startup (usaha rintisan) baru dalam berbagai kategori.

Menurut Nur Islami Javad (Jeff), selaku Co Founder Bandung Initiative Movement (BIM), untuk kategori teknologi finansial saja sudah lebih dari 200 startup muncul dalam dua tahun terakhir.

Baca: Stasiun di Bandung Tingkatkan Keamanan Jelang Arus Mudik-Balik Lebaran, Jadi Makin Aman!

Baca: Pemprov Jabar Akan Verifikasi Masyarakat yang Tinggal di Wilayah Proyek Kereta Bogor-Sukabumi

Semakin kokohnya startup di Indonesia, menurut dia, terlihat dari munculnya empat 'unicorn' asli Indonesia, yaitu Gojek, Bukalapak, Tokopedia dan Traveloka.

"‎Di era digital ini, teknologi banyak membantu bisnis. Banyak startup bermunculan, di segmen transportasi, e-commerce, hospitality, dan di berbagai sektor ekonomi. Semakin banyak irisan, semakin banyak bisnis model baru yang ditawarkan," kata Jeff dalam acara Pesantren Startup di Bandung Creative Hub, Sabtu (2/6/2018).

Jeff menambahkan bahwa era kemunculan startup dengan bisnis model kekinian muncul karena terjadinya pergeseran kegiatan belanja kebutuhan, transportasi, dan berbagai kebutuhan lainnya di masyarakat. Pergeseran yang terjadi adalah hingga 90 persen menuju online.

Dalam survey terhadap 808 responden di akhir 2017, menurut Jeff, 90 persen masyarakat sudah membeli tiket pesawatnya online, 72 persen melakukan booking hotel secara online, 60 persen pembelian pulsa dan token prabayar secara online, belanja makanan dan minuman sudah mencapai 33 persen online, belanja buku, hobi, koleksi berkisar 32 persen online.


"Bahkan pembelian tiket konser, sudah 72 persen online. Tiket bioskop, 28 persen online, belanja fesyen dan mode 22 persen online. Lebih dahsyat lagi, rata-rata nilai pengeluaran atau belanja secara online bila dibandingkan secara tradisional atau konvensional, jumlahnya hampir sama," katanya.

Halaman
12
Penulis: Kemal Setia Permana
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved