Tantangan Strategis bagi Pupuk Kujang Wujudkan Kedaulatan Pangan

Salah satu faktor penting dalam mewujudkan kedaulatan pangan adalah kebijakan masalah pupuk termasuk ketersediaannya.

Tantangan Strategis bagi Pupuk Kujang Wujudkan Kedaulatan Pangan
Tribun Jabar/Isep Heri Herdiansah
ILUSTRASI - Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, memetik pepaya sebagai simbol digelarnya panen raya pepaya varietas Calina (California) di Kampung Sinarjaya, Kelurahan Urug, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, Rabu (7/2/2018). Sejumlah petani berhasil panen pepaya Calina saat pohon baru berusia empat bulan dengan produksi mencapai 750 kuintal dari 100 pohon, terutama setelah memakai pupuk nonsubsidi Jeranti. 

KEDAULATAN pangan dimaknai sebagai upaya mewujudkan pemenuhan kebutuhan pangan melalui produksi lokal dengan mengedepankan sistem pertanian berkelanjutan. Di tingkat internasional, konsep kedaulatan pangan mulai didengungkan dalam World Food Summit Five Years Later di Roma tahun 2002.

Di level nasional, kedaulatan pangan menjadi salah satu target pemerintah. Karena itu, berbagai langkah dilakukan dalam meningkatkan produksi pangan nasional sehingga pada akhirnya target kedaulatan pangan terwujud.

Salah satu faktor penting dalam mewujudkan kedaulatan pangan adalah kebijakan masalah pupuk termasuk ketersediaannya. Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian, Pending Dadih Permana, mengatakan, produksi pangan beras dan jagung masing-masing tumbuh di atas 5 persen dan 18 persen.

Menurut Dadih, sebagaimana dikutip dari Tribunnews.com (30 Agustus 2017), kemampuan produksi industri pupuk yang bagus akan sangat menopang akselerasi produksi pertanian. Untuk itu, harus dijamin ketersediaan pupuk yang memadai bagi kebutuhan petani.

Pentingnya ketersediaan pupuk itu juga dibenarkan oleh peneliti senior Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Achmad Suryana. Nenurut Achmad, harga tidak lagi menjadi faktor penentu bagi petani dalam membeli pupuk selama ketersediaan pupuk mampu terjamin dengan baik (Tribunnews.com, 30 Agustus 2017).

Kebutuhan pupuk secara nasional memang cenderung meningkat. Pupuk urea, misalnya, berdasarkan data Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI), pada tahun 2017 konsumsi pupuk urea secara nasional mencapai 5,97 juta ton atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 5,32 juta ton. Produksi industri pupuk nasional pada 2017 sebanyak 6,83 juta ton. Jumlah produksi ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 6,46 juta ton.

PT Pupuk Kujang, salah satu perusahaan pupuk nasional, berkontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan pupuk bila dilihat dari kemampuan produksinya. Untuk pupuk urea, kapasitas produksi Pupuk Kujang telah mencapai 1,14 juta ton di tahun 2017.

Pupuk Kujang ditugaskan mendistribusikan pupuk bagi kebutuhan petani di Jawa Barat, Banten, serta wilayah Jakarta. Kebutuhan pupuk di Jabar dan Banten sebanyak 600.000 ton per tahun. Jumlah ini artinya produksi pupuk yang dihasilkan Pupuk Kujang mampu menjamin ketersedian pasokan pupuk di wilayah tersebut. Dengan jaminan itu petani tidak lagi kesulitan memperoleh pupuk yang dibutuhkan saat musim tanam.

Pada musim tanam kuartal I tahun 2018, stok pupuk urea Pupuk Kujang mencapai 66.963 ton. Menurut Manajer Komunikasi PT Pupuk Kujang, Ade Cahya, persediaan pupuk urea tersebut mencapai 174 persen dari kewajiban yang dibebankan kepada Pupuk Kujang dalam menyediakan kebutuhan pupuk (Tribunjabar.co.id, 29 Januari 2018).

Kelangkaan pupuk di musim tanam umumnya terjadi di tingkat hilir, di mana spekulan memanfaatkan peningkatan permintaan untuk menimbun pupuk.

Ketersediaan pupuk yang memadai di tingkat produsen memang memungkinkan produsen menggelontorkan pupuk lebih banyak lagi di musim tanam sehingga spekulan tak berkutik mempermainkan harga. Cara itu merupakan salah satu upaya pengendalian distribusi pupuk.

Di pihak lain adalah upaya pemerintah dengan membuat Kartu Tani pada tahun 2017. Hanya petani yang memiliki Kartu Tani yang berhak membeli pupuk bersubsidi. Cara pengendalian distribusi pupuk dengan Kartu Tani ini diharapkan bisa menghilangkan praktik spekulan pupuk serta distribusi pupuk bersubsidi dapat benar-benar tepat sasaran.

Karena tergolong baru, pemberlakuan Kartu Tani memang masih belum ideal. Masih ada sejumlah persoalan teknis yang harus diselesaikan. Kendala tersebut memang bukan berada di tangan industri pupuk. Pasalnya, industri pupuk, termasuk PT Pupuk Kujang, telah membuktikan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan pupuk bagi petani. Namun, industri pupuk nasional seperti Pupuk Kujang tidak boleh berpuas diri.

Selalu ada tuntutan meningkatkan produksi pupuk baik secara kuantitas maupun kualitas. Sebab, permintaan pupuk untuk mengejar target kedaulatan pangan dipastikan akan terus meningkat.

Sebaliknya, dari sisi kualitas, petani membutuhkan pupuk dengan kualitas terbaik untuk bisa meningkatkan produksi tanaman pangan. Tuntutan itu merupakan sebuah tantangan strategis bagi Pupuk Kujang dalam mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia.  (darajat arianto)

Penulis: Darajat Arianto
Editor: Darajat Arianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved