Pilwalkot Bandung

Hapus Stigma Negatif Disabilitas, Nurul Arifin Ajak Warga Bandung Curahkan Perhatian

Bagi penyandang tuna netra, blok pemandu yang berfungsi mengarahkan mereka untuk jalan di trotoar kerap terhalangi PKL

Hapus Stigma Negatif Disabilitas, Nurul Arifin Ajak Warga Bandung Curahkan Perhatian
TRIBUN JABAR/ERY CHANDRA
Calon wali kota Bandung Nurul Arifin berfoto bersama warga di Gelanggang Olahraga (GOR) Raden Ganda RT 5/10 Kelurahan Sukaraja, Kota Bandung, Senin (30/4/2018). 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Ferry Fadhlurrahman

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Calon Wali Kota Bandung nomor 1, Nurul Arifin, menyatakan bahwa Kota Bandung telah dicanangkan sebagai Kota Inklusi.

Tapi masih banyak layanan yang masih harus dipoles. Dari sisi pendidikan, contohnya, dirinya mengaku mendapat informasi jika anak dan warga difabel masih mendapat diskriminasi.

“Diperlukan program khusus secara gencar untuk menyamakan persepsi agar semua warga bisa beraktivitas bersama tanpa menumbuhkan rasa perbedaan. Sehingga stigma terhadap warga disabilitas dapat hilang sesuai dengan perintah Undang Undang no.8 tahun 2016,” ujar Nurul di Posko Nuruli, Rabu (16/5/2018).

Seharusnya, ia menjelaskan, semua warga Bandung terus memberikan semangat dan menempatkan warga difabel setara dengan warga lainnya.


Disinggung mengenai hak memperoleh pekerjaan bagi warga berkebutuhan khusus, Nurul mengatakan, pada dasarnya sejak tahun 1997 lalu sudah ada undang-undangnya dan diperbaharui melalui undang-undang Nomor 8 Tahun 2016, dimana untuk lembaga pemerintah paling tidak satu persen dari pekerjanya, diperuntukan bagi penyandang disabilitas.

Sementara untuk sektor swasta sebanyak satu Persen.

Nurul mengatakan, dari segi Infrastruktur, dirinya mengaku masih menemukan banyak trotoar yang indah, namun belum memudahkan akses bagi warga difabel.

“Sejumlah trotoar masih memunculkan ketinggian yang sulit diakses oleh pengguna kursi roda," ujar Nurul.

Bagi penyandang tuna netra, blok pemandu yang berfungsi mengarahkan mereka untuk jalan di trotoar kerap terhalangi PKL, pos keamanan bahkan lubang.

Transportasi juga masih menjadi kendala warga difabel untuk berpindah lokasi. Hibah tiga bus dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat terbatas rute dan waktu operasional. Padahal, kata Nurul, ada sekitar 8 ribu warga difabel di Kota Bandung yang memerlukan mobilitas ke berbagai penjuru kota.

"Kebanyakan dari warga ini berinisiatif memodifikasi motornya agar aktifitas mereka tidak terkendala. Semangat mereka ini yang membuat saya ingin segera memimpin Kota Bandung bersama Kang Ruli untuk serius memberi pelayanan tanpa diskriminasi," ujar Nurul.

Penulis: Ferry Fadhlurrahman
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help