Serangan Bom di Surabaya

Kisah Haru di Balik Ruang IGD Usai Bom Surabaya: di Hari Penuh Kebencian, Kutemukan Wajah Welas Asih

Di balik kebencian, masih jauh lebih banyak yang bersatu, menolong, bahu-membahu.

Kisah Haru di Balik Ruang IGD Usai Bom Surabaya: di Hari Penuh Kebencian, Kutemukan Wajah Welas Asih
istimewa
Kondisi di depan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jl Diponegoro, Surabaya, Minggu (13/5/2018) 

"Kami segera dikirim ke ER (emergency room). Saya tidak percaya ketika mereka mengatakan adanya bom," tulisnya.

Rasa tak percaya menyelimuti Sitha karena Surabaya selama ini dikenal sebagai kota yang damai.

Ia menjelaskan ada empat orang pasie yang masuk ke ER.

Kondisi seluruhnya sebagai prioritas penanganan.

Terlebih dua dari empat orang masuk merupakan anak-anak.

"Seorang anak menderita rasa sakit yang ekstrim dan nampak matanya terluka. seorang anak memiliki banyak luka minor. seorang pria mengalami patah kaki dan luka berat di tangan," jelas Sitha.

Baca: Rumah Butut Sukaesih Tak Kunjung Diperbaiki, Program Rutilahu Pemkot Cimahi Dinilai Ngawur

Sembari memberi pertolongan, Sitha berhasil mengorek sedikit cerita dari salah satu pasien.

Pasien tersebut merupaka penjaga tempat parkir di lokasi kejadian.

Pria ini mengaku menyaksikan secara gamblang detik demi detik saat bom meledak.

Sitha merasa terenyuh ketika mengetahui bahwa pria tersebut sampai ke rumah sakit buka diantar oleh mobil ambulance, melainkan diantar oleh pengendara yang kebetulan melintas di lokasi kejadian.

Halaman
123
Editor: Ravianto
Sumber: Tribun Bogor
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help