Serangan Bom di Surabaya

Agar Tak Tersesat, Ini Pesan MUI Jatinangor untuk Anak Muda yang Mendalami Ilmu Agama

Ketua MUI Jatinangor, Tajul Arivin, mengatakan, kejadian yang terjadi itu kembali mengingatkan pentingnya belajar agama Islam secara utuh

Agar Tak Tersesat, Ini Pesan MUI Jatinangor untuk Anak Muda yang Mendalami Ilmu Agama
Tribun Jabar/Ery Chandra
Ketua MUI Jatinangor, Tajul Arivin, di ruang kerjanya, Jalan Raya Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Senin (14/5/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ery Chandra

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Mencuatnya penangkapan seorang mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung yang diduga kuat terlibat dalam jaringan radikol memancing keprihatinan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatinangor.

Ketua MUI Jatinangor, Tajul Arivin, mengatakan, kejadian yang terjadi itu kembali mengingatkan pentingnya belajar agama Islam secara utuh.

"Harus belajar agama secara betul-betul. Jangan sepotong-potong," ujar Tajul, di ruang kerjanya, Jalan Raya Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Senin (14/5/2018).

Baca: FKUB Garut Kutuk Aksi Terorisme di Surabaya, Ini 8 Poin Sikapnya

Tajul berpesan secara khususnya kepada generasi muda yang tengah menuntut ilmu di Jatinangor, Kabupaten Sumedang ketika memperoleh informasi atau pengetahuan tentang ilmu agama ditelusuri dan bertanya kepada ahli agama.

"Saya pesan pada kaum muda yang emosinya belum stabil kalau mendengar berita apapun agar tabayyun. Di kroscek dulu apakah benar atau tidak," ujar Tajul.

Tajul menuturkan rasa ingin tahu generasi muda akan ilmu agama sebetulnya positif. Tetapi, dengan syarat tidak cukup hanya belajar dari kecanggihan teknologi yang ada seperti dari internet, youtube, dan lain-lainnya.

Baca: Kabar Adanya Bom di Kiaracondong Dipastikan Hoax, Ini Faktanya

"Belajar ilmu agama harus ada gurunya agar bisa dibimbing. Gurunya pun yang tepat ilmunya dan bisa dipertanggungjawabkan," kata Tajul.

Tajul mengatakan peran ulama, dan ustad di seluruh wilayah Jatinangor agar dapat menyampaikan pengetahuan ilmu agama secara total. Pasalnya, supaya terhindar dari pemahaman yang keliru tentang ilmu agama dan berujung pada gerakan radikal kedepannya.

"Dakwah jangan sepotong-potong dan dipilih-pilih. Anak muda juga belajar agama dari guru agama yang mengerti. Kini banyak yang mengaku ustad padahal belajar dari google atau buku," ujarnya.


Penulis: Ery Chandra
Editor: Yudha Maulana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help