Wanita Jenius Audrey Yu Sempat Alami Goncangan Ini dalam Hidupnya, Pertanyakan Konsep Tuhan

Terlahir memiliki pemikiran yang kritis, Audrey mempertanyakan tentang konsep tritunggal dan menolak bernyanyi ketika ibadah.

Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Yudha Maulana
Tribun Jabar/Putri Puspita
Audrey Yu Jia Hui (29) seorang jenius dan pemikir kritis yang cinta Indonesia 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Konslet, sebutan itulah yang seringkali didengar oleh si jenius Audrey
Yu Jia Hui (29) dari teman-teman sebayanya.

Sebagai penganut agama Kristen Protestan, Audrey sejak kecil selalu datang ke sekolah minggu, disana ia belajar menyanyi dan menggambar.

Terlahir memiliki pemikiran yang kritis, Audrey mempertanyakan tentang konsep tritunggal dan menolak bernyanyi ketika ibadah.

Ketika ditanya kenapa tidak mau bernyanyi, Audrey menjawab "Sebelum percaya suatu agama tertentu, saya ingin dijelaskan dasar-dasar agama ini. Jika saya tidak mengerti apa yang saya nyanyikan namun hanya sekedar bersuara saja, saya merasa itu palsu.” ujarnya.

Baca: Lahir dengan Kejeniusan, Audrey Yu Langsung Jatuh Cinta pada Pancasila

Hal ini membuat guru sekolah minggunya takut dan julukan konslet didapatkannya dari teman-temannya.

Harus hidup penuh dengan kepura-puraan dan mencoba terlihat "normal" seperti anak seumurnya membuat emosi Audrey tak stabil sehingga orang tuanya membawa Audrey kepada konselor.

Sayangnya konselor tidak bisa membantu masalah Audrey karena menurutnya para konselor tidak menemui kasus seperti dirinya, kasus SARA dan Pancasila.

"Sejak kecil saya merasa kesepian, tapi saya memaknai kesengsaraan itu menjadi sebuah hikmah. Saya yakin Tuhan Maha Baik," ujar Audrey saat ditemui di Sabuga, Jalan Taman Sari No 73, Rabu (28/3/2018).

Baca: Media Spanyol Klaim Bintang Muda Jerman Tolak Madrid untuk Gabung ke Liverpool

Setiap orang memaknai sebuah kesengsaraan dengan cara yang berbeda-beda, begitupun pemilik nama lengkap Maria Audrey Lokita.

"Tokoh Soekarno saja memiliki kelemahan, setiap manusia membawa trauma dalam hidupnya. Saya melakukan hal yang terbaik apa yang bisa saya lakukan," ujar penulis buku 'Mencari Sila Kelima'.

Merasa berbeda dengan manusia di sekitarnya membuat Audrey kekurangan dalam segitu emotional. Ia tidak bisa menemukan nilai persahabatan.

Baca: Tb Hasanuddin Sebut Ada Tiga Sumber Masalah Intoleransi di Indonesia

Hal yang membuatnya kecewa dari masyarakat Indonesia adalah, masyarakatnya yang tidak suka berpikir secara mendalam sehingga rasa kesepian terus menyelimuti dirinya.

Oleh karena itu, Audrey tengah mempersiapkan melanjutkan S2 di Amerika mengmabil jurusan filsafat untuk mendapatkan teman bercerita dan diskusi.


Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved