Penyair Ini Tuding Denny JA Merusak Sastra Indonesia, Dibantu Para Sastrawan yang Oportunis

(Proyek itu) Merusak sastra Indonesia dan memanipulasi sejarah sastra Indonesia.

Penyair Ini Tuding Denny JA Merusak Sastra Indonesia, Dibantu Para Sastrawan yang Oportunis
Tribun Jabar/Ery Candra
Penyair Ahda Imran di Gedung Indonesia Menggugat, Kota Bandung, Selasa (13/3/2018) sore. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ery Chandra

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Penyair, Ahda Imran, menuding proyek penulisan buku puisi esai nasional yang digagas Denny JA itu adalah fenomena kekuatan modal yang menyusup ke dalam sastra Indonesia.

Ahda Imran menyatakan hal itu saat menjadi pembicara dalam diskusi "Membongkar Skandal Proyek Puisi Esai Denny JA" di Gedung Indonesia Menggugat, Kota Bandung, Selasa (13/3/2018).

"(Proyek itu) Merusak sastra Indonesia dan memanipulasi sejarah sastra Indonesia. Inilah mengapa banyak teman sastrawan di seluruh Indonesia dan berbagai aliansi menolak itu (proyek itu)," ujarnya.

Ahda Imran menyebut proyek itu  merupakan politik transaksional disusupkan ke dalam sastra Indonesia.


Proyek tersebut, kata dia, dibantu oleh para sastrawan yang oportunis.

"Yang memberi legitimasi simbolik atas temuan-temuan dia itu," ujar pria yang masuk dalam daftar lima besar nominasi ajang Kusala Sastra Khatulistiwa tersebut.

Ahda Imran mengatakan alasan menggunakan istilah diskusi nasional ialah sebagai cara untuk melawan gerakan puisi esai nasional Denny JA tersebut.

Baca: Rumah Mewah Roro Fitria Kini Berubah, Lihat Bagian Sampingnya yang Bikin Tutup Hidung dan Gatal

Lebih lanjut, sebenarnya ia tidak mempermasalahkan cara menulis puisi esai dalam proyek itu karena merupakan hak setiap orang.

"Jadi masalah ketika ada yang mengklaim sebagai pembaharu. Itu yang jadi masalah kami. Nah, kenapa kami memakai istilah nasional itu lebih menyindir," katanya.

Program puisi esai merupakan gagasan dari pemilik Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny Januar Ali (Denny JA). (*)

Penulis: Ery Chandra
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help