Diskar PB Kota Bandung Beberkan Biang Kerok Banjir yang Terjadi di Kota Bandung

Selain oleh faktor alam tetapi juga diperparah oleh ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab dalam menyikapi kondisi alamnya

Diskar PB Kota Bandung Beberkan Biang Kerok Banjir yang Terjadi di Kota Bandung
Tribun Jabar/Yongky Yulius
Banjir setinggi betis hingga pinggang orang dewasa yang melanda wilayah RT 1, 2, dan 3, RW 4, Kelurahan Cisaranten Endah, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, Jumat (9/3/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Seringnya bencana banjir yang terjadi di sejumlah titik wilayah di Kota Bandung selama beberapa hari terakhir, disebabkan oleh kerusakan lahan secara besar-besaran yang terjadi di Kawasan Bandung Utara (KBU).

Berdasarkan data kebencanaan yang di miliki oleh Diskar PB Kota Bandung, sepanjang kurun waktu tahun 2017 hingga awal 2018, masalah kebencanaan di Kota Bandung dominan disebabkan oleh faktor cuaca, seperti pohon tumbang; dan banjir, baik yang disebabkan oleh jebolnya tanggul sungai, maupun diakibatkan oleh sedimentasi lumpur dan sampah.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Diskar PB) Kota Bandung, Ferdi Ligaswara menilai kerusakan yang ditimbulkan tersebut selain oleh faktor alam tetapi juga diperparah oleh ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab dalam menyikapi kondisi alamnya. Salah satunya adalah tidak terkendalinya pendirian bangunan yang tidak sesuai dengan aturan.

"Saya tidak ingin menyalahkan suatu daerah tertentu, tapi menjadi kewajiban kita bersama untuk mulai dari sekarang, tingkatkan pengawasan, pengendalian, dan penindakan terhadap eksploitasi pendiran bangunan, khususnya di KBU, karena disana banyak berdiri bangunan komersil yang bukan lagi di dataran tinggi, tapi juga hingga di tebing-tebing curam. Ini membuktikan, tidak terkendalinya tata kelola pendirian bangunan disana," ujarnya saat di temui di kantornya, Jalan Sukabumi, Kota Bandung, Selasa (13/3).


Oleh karena itu, lanjut dia, kedepan perlu adanya nota kesepahaman dari semua pihak untuk turut mengawasi, mengendalikan, bahkan menertibkan bangunan-bangunan yang didirikan tanpa mengantongi izin resmi dari pemerintah.

Bahkan menjamurnya pembangunan tersebut dilakukan hingga ke jurang atau bibir sungai yang tentu akan mengganggu ekosistem.

"Saya tegaskan lambat laun ini akan menjadi sebuah bom waktu bila terus dibiarkan atau tidak bisa di kendalikan  oleh Pemerintah di KBU. Sebagai isyarat adanya ekspoitasi besar-besaran di KBU adalah banjir kali ini, bukan hanya genangan air, tapi juga bercampur lumpur, karena ada masalah dengan sistem serapan air disana, yang fungsi pohonnya di ganti oleh beton. Jadi tinggal menunggu waktu saja, Kota Bandung dan sekitarnya nanti akan dilanda banjir hebat dari bagian hulu," ucapnya.

Ferdi yang juga menjabat sebagai Ketua Asosisasi Pemadam Kebakaran Indonesia menambahkan, kondisi saat ini berbeda dari beberapa tahun lalu, dimana meski hujan deras di KBU akan tetapi bencana banjir tidak terjadi di Kota Bandung. Hal tersebut di karena adanya kontrol dari berbagai stakeholder dalam menerapkan aturan.

Halaman
12
Penulis: Cipta Permana
Editor: Isal Mawardi
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help