Cerpen Beni Setia

Impulsia

SAYA adalah zombies, ditidurkan siang hari dan dijagakan di malam hari.

Impulsia
TRIBUN JABAR/yudixtag
Ilustrasi cerpen Impulsia 

SAYA adalah zombies, ditidurkan siang hari dan dijagakan di malam hari.

Awalnya hanya bangun untuk berlatih, mempelajari cara tuntas-singkat membunuh—menjelang fajar: makan, lantas meneguk segelas ramuan bius sebelum merayap masuk ke kuburan serta tidur sepanjang siang. Menjelang petang terjaga—meski amat lemas tidak bertenaga. Selepas Magrib dipanggil buat makan—seperti yang berpuasa. Meneguk ramuan lain, yang membuat tubuh lemas jadi segar, dan semua otot-sendi terorganisir meski ada denyar di otak yang terus memberi instruksi, memaksa untuk pergi ke tempat rahasia untuk berlatih.

Terkadang, dari bacaan dari perpustakaan yang dibaca secara bebas meski tubuh lemas, terdorong referensi lain. Bahwa kami ini bukan sekadar zombies—yang menjadi bertenaga karena mantra serta kerasukan roh lain, tapi mendekati robot, mandroid, yang dihidupkan oleh perintah chip yang ditanamkan dalam otak—yang sekarang di program latihan, lalu membunuh secara efektif, meski melulu hanya diprogram patuh. Karena itu saya mengerti kalau harga kami itu tidak murah—tak seperti cuma sekadar manusia yang hanya dimanja makan dan melulu dilatih agar terampil.

Pada intinya, kenangan dihapus—ingatan jadi nol, meski setiap akan ditugaskan, seperti yang terlihat dari beberapa teman yang terpilih, ingatan yang baru diisikan, sehingga selain denyar chip yang memproyeksikan tindakan—yang dikuatkan dengan insting dari latihan: ada naluri artifisial yang selalu mendorong kami untuk survive atau buas menyerang, lantas menghilang tak terlacak—dan harus tak bisa dilacak.

Karenanya, setiap penugasan itu proyek bunuh diri—puncak dari strategi: tidak lagi terlacak siapa yang bertindak, atas perintah siapa, serta bukan hanya target terlaksana dan sasaran musnah. Karena itu terkadang terpikir, kami cuma pemusnah yang siap dihancurkan—suicide squad. Ya! Setidaknya kenangan selalu dimusnahkan chip pengontrol. Dan dengan minuman pembius, hingga ingatan langsung masuk ke kotak tak-sadar—meski sesekali itu menggeliat jadi ingatan setengah sadar dalam setengah mengigau dan bermimpi.

**

KEMUDIAN, setelah terlatih, di malam hari, ketika kami hanya terjaga dan melulu cuma bebas membaca—terkadang terpikirkan: untuk belajar menghipnotis diri sendiri, agar bebas mencari masa lalu, menyusuri kesejarahan diri sendiri dalam ketidaksadaran. Tapi itu selalu luput. Karena begitu fajar menjelang, setelah dipaksa makan serta harus meneguk ramuan ajaib—saya pernah pura-pura meminumnya tapi tak meneguknya, tapi sangat tersiksa karena di sepanjang siang tidak bisa tidur, dan tetap kelelahan di malam hari—meski memakai suplemen segar-tegar—yang membuat otot bagai diperas serta sendi berdenyut bagai dicabuti. Karena itu saya sadar bahwa saya sudah kecanduan ramuan ajaib itu—si adiktif yang membutuhkan tubuh segar dan stamina utuh sehingga tubuh terhindar dari efek terindap selama belasan tahun terakhir.

**

KAMI menunggu order pembunuhan atau pemusnahan. Setelah tugas itu selesai, sebenarnya dibiarkan bebas dan bisa kabur—tapi BS1954, yang berpengalaman membunuh, bercerita bahwa kami telah diikat oleh ramuan ajaib itu satu adiksi yang membuat kami sakau dan terpaksa kembali ke markas, dan meminum ramuan buat menikmati pingsan di siang hari, dan minum agar tetap segar-tegar di malam hari, kemudian (sesekali) bertugas untuk memilih musnah—meski secara fisik tidak musnah tapi tetap bermakna dimusnahkan sebab kenangan dihapus dan ingatan diposisikan nol.

Terkadang ingatan tak dihilangkan tapi tubuh kami dipereteli sehingga ingatan menjadi kesadaran yang mengambang tanpa ada wadah, sebab tangan telah pindah ke mandroid lain, karena jeroan pindah ke mandroid lain. Dan ingatan itu melayang serta terpaksa menghilang, karena semua mandroid selalu dikondisikan dengan ingatan nol, yang ada dalam kumparan yang liar menyengat bila didekati si ingatan melayang itu. Jadi, kami mirip yang cuma hidup buat hari ini, tanpa kenangan, dan dijauhkan dari fantasi—ditata nyaman di tengah larutan adiksi ramuan ajaib. Tapi apa ramuan ajaib itu? Bisakah kami menguasainya, dan memakainya secara otonom agar hidup lebih merdeka?

Halaman
12
Editor: Dedy Herdiana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help