Suka Duka Pustakawan Muda, Pernah Berkeliling Mencari Buku Sendiri

Hari pertama bekerja, Mutia langsung melepas label yang ada pada buku. Pekerjaan ini memakan waktu cukup lama.

Suka Duka Pustakawan Muda, Pernah Berkeliling Mencari Buku Sendiri
Tribun Jabar/Fidya Alifa
Mutia Rahmi tengah menata buku di rak perpustakaan STIMLOG, Jalan Sari Asih, Bandung, Rabu (14/2/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Fidya Alifa

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Mengembangkan perpustakaan merupakan tantangan baru bagi Mutia Rahmi yang ketika itu baru lulus kuliah.

Pada Maret 2017, Mutia diterima menjadi Kepala Perpustakaan Sekolah Tinggi Manajemen Logistik Indonesia.

Ketika itu perpustakaan belum memiliki rak buku. Buku-buku yang ada ditumpuk begitu saja.

Ruangan perpustakaan juga hanya seluas kira-kira 5x5 meter persegi, layaknya sekretariat unit kegiatan mahasiswa (UKM).

"Awalnya saya sudah memikirkan bagaimana mengembangkan perpustakaan di ruangan kecil tapi alhamdulillahnya hari pertama saya datang dipindahkan ke ruangan yang lebih besar," ujar Mutia Rahmi di STIMLOG, Jalan Sari Asih, Sarijadi, Bandung.

Baca: Kabar Gembira untuk Bobotoh! Kim Jeffrey Kurniawan Sudah Mulai Latihan Pakai Bola

Buku yang tersedia mulanya hanya buku berbahasa Inggris yang hasil dari fotokopi. Beberapa buku juga belum dilabeli secara benar dan tidak sesuai standar.

Mutia mengganti label buku menjadi standar internasional.

Label internasional terdiri dari nama instansi, nomor Dewey Decimal Classification (DDC) atau nomor pengklasifikasian buku, lalu nama akhir penulis yang ditulis tiga huruf paling awal, dan judul buku.

Halaman
1234
Penulis: Fidya Alifa Puspafirdausi
Editor: Yudha Maulana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help