Gara-gara Hal Ini, Perajin Tempe di Garut 'Kapok' Buang Limbah Sembarangan ke Sungai

Sebelumnya, para perajin tempe kerap membuang air sisa untuk merebus kedelai langsung ke. . .

Gara-gara Hal Ini, Perajin Tempe di Garut 'Kapok' Buang Limbah Sembarangan ke Sungai
Tribun Jabar/Hakim Baihaqi
Perajin tempe di Kampung Astanahilir, Kelurahan Jayaraga, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Perajin tempe di Kampung Astanahilir, Kelurahan Jayawaras, baru menyadari kalau limbah hasil produksi tempe dapat dimanfaatkan kembali.

Sebelumnya, para perajin tempe kerap membuang air sisa rebusan kedelai langsung ke aliran sungai, akibatnya terjadi pencemaran yakni sungai berubah warna dan menimbulkan aroma yang tidak sedap.

Tetapi, hal tersebut saat ini tidak akan terulang kembali, pasalnya, melalui program CSR dari salah satu BUMN mengajak para perajin untuk mengolah limbah menjadi biogas sebagai bahan bakar.

Tak hanya menjadi biogas, air sisa rebusan ini pun, saat ini bisa digunakan menjadi pupuk, karena mengandung zat organik cukup tinggi.

Emu (40), seorang perajin tempe, mengatakan, awalnya tidak percaya kalau air rebusan bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal, itu terbukti dari air limbah yang menjadi biogas.

"Ada pipa yang terhubung dari penampungan ke ruang produksi, saya kira itu bohong, pas dicoba benar seperti gas LPG," kata Emu kepada Tribun Jabar, Jumat (9/2/2018).

Emu mengatakan, adanya gas alternatif ini, diharapkan dapat menghemat biaya produksi pembuatan tempe.

"Untuk setiap harinya, kami menghabiskan 1,5 meter kubik kayu bakar, kayaknya setelah ada biogas pasti kebutuhan kayu bakar pasti sedikit," ujarnya.

Tak hanya itu, Emu mengatakan, kulit keledai pun memiliki nilai ekonomis, karena dapat dipergunakan sebagai pakan ternak.

"Dari mulai ampas sampai air bisa dimanfaatkan, jadi tidak ada yang terbuang," ujarnya.

Ia berharap, biogas ini tidak hanya dapat dinikmati oleh para perajin tempe saja, melainkan bagi masyarakat sekitar lokasi pembuatan tempe.

"Instalasi akan disebar hingga permukiman warga," katanya.

Gita Noorwardani, inisiator pembuatan biogas di Kampung Astanahilir, mengatakan, program ini nantinya tidak hanya dapat nikmati oleh para perajin tempe saja, melainkan warga sekitar.

"Kami akan buat instalasi yang terhubung ke rumah warga," ujarnya.

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Fauzie Pradita Abbas
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved