Inilah Empat Faktor yang Menjadi Penyebab Sungai Citarum Tercemar Versi Rektor ITB
"Pertama karena limbah domestik," ujar Kadarsah Suryadi di ruang serbaguna ITB, Jalan Ganesha, Bandung, Kamis (25/1/2018).
Penulis: Isal Mawardi | Editor: Jannisha Rosmana Dewi
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Isal Mawardi
TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Kadarsah Suryadi menyebutkan empat faktor yang membuat Sungai Citarum tercemar.
"Pertama karena limbah domestik," ujar Kadarsah Suryadi di ruang serbaguna ITB, Jalan Ganesha, Bandung, Kamis (25/1/2018).
Banyaknya rumah yang berdiri di pinggiran sungai membuat limbah rumah tangga secara otomatis akan dibuang ke sungai.
Limbah rumah tangga tersebut bisa berbentuk cair ataupun padat.
Polisi Datangi RS National Hospital, Bagaimana Nasib Perawat Pelaku Pelecehan Pasien Cantik? https://t.co/Pz3opmfzbR via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) January 25, 2018
Kedua, limbah industri juga berpartisipasi dalam mencemari sungai yang panjang alirannya sekira 300 kilometer tersebut.
Limbah bekas pengolahan suatu produk pada berbagai pabrik yang berdiri di sepanjang Sungai Citarum dapat membuat warna air di sungai tersebut menjadi coklat kehitaman.
Berbagai pabrik tersebut ada yang menggunakan IPAL (Instalasi Pengelolahan Air Limbah) dan ada pula yang tidak menggunakan IPAL.
Perusahaan yang tidak menggunakan IPAL inilah yang menyumbang limbah di Sungai Citarum.
"Selanjutnya, limbah peternakan dan perikanan. Kotoran ternak yang dibuang ke sungai yang dapat menimbulkan bau tidak sedap, sedangkan pakan ikan yang tidak termakan oleh ikan akan masuk ke waduk lalu masuk ke sungai yang mana juga mencemari air sungai," ujar Kadarsah Suryadi.
Pertanian terpadu menjadi faktor keempat yang membuat Sungai Citarum sempat mendapatkan julukan sebagai sungai terkotor oleh Washington Post.