TribunJabar/

SOROT

Panglima dan Citarum

Alih-alih mengomandoi semua gerakan penanggulangan Citarum, lembaga itu seperti repot mengurusi dirinya sendiri.

Panglima dan Citarum
Istimewa
Pemimpin Redaksi Tribun Jabar, Yusran Pare 

Oleh Yusran Pare
Wartawan Tribun Jabar

PANGLIMA Kodam III Siliwangi Mayjen TNI Doni Monardo seperti tak kenal lelah “menerjang” segala sisi untuk memulihkan Sungai Citarum. Sejak ia dilantik, gebrakan pertamanya justru memerangi persoalan yang dianggap telah menghancurkan ekosisetem sungai ini. Sungai yang jadi tumpuan hampir 30 juta jiwa penduduk Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Entah berapa puluh kali ia bertemu dan berbicara dengan berbagai pihak, menyentak kesadaran banyak orang, menggedor ketakpedulian, dan menjalarkan spirit baru mengenai bagaimana seharusnya sungai beserta lingkungannya dikelola.

Gerakan yang diinisiasi Panglima ini makin menarik perhatian ketika Presiden RI Joko Widodo turun tangan, bahkan menyempatkan diri turun ke Bandung memimpin dua rapat khusus mengenai hal ini, dan satu pertemuan terbatas dengan 45 tokoh masyarakat.

Presiden juga menegaskan, Sejak akhir November 2017 sampai pertengahan Januari 2018 saja, pihaknya sudah menggelar sekurang-kurangnya 14 kali melakukan pertemuan khusus membahas persoalan Citartum dan langkah-langkah penanggulangannya.

Citarum sudah rusak. Tampaknya semua orang sudah tahu itu, bahkan sempat jadi berita dunia ketika disebut bahwa inilah sungai terkotor di muka bumi! Betapa mengerikan, sementara penduduk yang berada –dan jadi bagian siklus lingkungan– di sekitarnya seolah tenang-tenang saja.

Puluhan tahun kondisi ini seperti tak pernah disentuh. Padahal ada lembaga khusus yang ditugasi mengurusinya. Atau, kalau pun disebut ada penanganan, toh realitas menunjukkan kondisi sungai ini kian hari semakin buruk.

Alih-alih mengomandoi semua gerakan penanggulangan Citarum, lembaga itu seperti repot mengurusi dirinya sendiri. Pertengahan tahun 2017, misalnya, kantor yang mengurusi sungai ini terbakar. Sebagian besar asrsip dan data-data penting jadi abu.

Belasan triliun sudah digelontorkan melalui macam-macam program, seperti tak berbekas. Saban tahun selalu muncul banjir, dan pencemaran kian menjadi-jadi. Setiap musim pemilu dan pilkada, senantiasa pula jadi arena pencitraan. Sesudah itu warga melanjutkan hidup seperti biasa.

Kini tampaknya tidak lagi. Hampir tiap hari berita mengenai Citarum muncul nyaris di semua media di tanah air, bahkan sebuah surat kabar internasional “berteriak” bahwa pemerintah Indonesia menerjunkan militer untuk menangani (sungai) Citarum.

Dalam percaturan internasional, jika sebuah negara sudah menerjunkan Garda Nasional untuk menghadapi sebuah masalah, berarti persoalan itu demikian serius mengancam pertahanan dan ketahanan negara yang bersangkutan. Ibarat terjadinya megabencana atau serangan alien dari antah-berantah. Darurat!

Halaman
12
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help