Pilgub Jabar

Ahmad Syaikhu Ungkap Alasan Jawa Barat Jadi Wilayah dengan Kasus Intoleransi Tertinggi Se-Indonesia

"Di sini ada ketidakpahaman umat beragama. Harusnya semakin ia beragama semakin ia toleran" ujar Ahmad Syaikhu.

Ahmad Syaikhu Ungkap Alasan Jawa Barat Jadi Wilayah dengan Kasus Intoleransi Tertinggi Se-Indonesia
Tribun Jabar/Kisdiantoro
Paslon Cagub-Cawagub Mayjen (Purn) Sudrajat dan Ahmad Syaikhu, bersama Pimpinan Redaksi Tribun Jabar, Yusran Pare di Kantor Tribun Jabar, Jumat (12/1/2018) 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ferry Fadhlurrahman

TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Penelitian Wahid Foundation pada 2015 menunjukan bahwa Jawa Barat (Jabar) mempunyai kasus intoleransi yang paling tinggi di seluruh Indonesia.

Bakal calon wakil gubernur Jabar, Ahmad Syaikhu, mengatakan ada empat alasan mengapa tingkat intoleransi di Jabar sangat tinggi.

"Jadi intoleransi ini ada beberapa hal yang memang harus dilakukan. Saya kira di sini ada ketidakpahaman umat beragama. Harusnya semakin ia beragama semakin ia toleran" ujar Ahmad Syaikhu di Kantor Tribun Jabar, Jalan Sekelimus Utara No 2-4, Bandung, Jumat (12/1/2018).

Alasan lain di balik tingginya angka kasus intoleransi di Jabar menurut Ahmad Syaikhu juga menyangkut dengan kurangnya peran pemerintah.

Terutama karena kurang tegasnya pemerintah dalam penegakan hukum dan juga pemerintah yang kurang transparan mengenai izin pembangunan.


Ahmad Syaikhu mencontohkan soal pemerintah yang kurang transparan soal perizinan pembangunan.

Misalnya izin pembangunan rumah ibadah. Ada beberapa golongan yang merasa dimanipulasi karena perizinan yang kurang transparan.

Lalu yang terakhir, tidak adanya usaha yang dilakukan bersama. Semua usaha baru dilakukan ketika konflik sudah terjadi.

"Ketiga perlu ada usaha usaha bersama, yang mempersatukan dalam proses pembangunan. Mengatasi penghijauan sosialisasikan bersama-sama. Usaha bersama yang refreshing jangan saat konflik saja," ujar Ahmad Syaikhu.

Penulis: Ferry Fadhlurrahman
Editor: Jannisha Rosmana Dewi
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help