VIDEO: Cara Tradisional Makan Waktu, Begini Curhatan Produsen Dorokdok yang Mendambakan Alat Modern

Dari proses penjemuran hingga pengemasan, para produsen kerupuk kulit masih mengandalkan cara tradisional yang memakan waktu lama.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.CO.ID, GARUT - Seiring berjalannya waktu, sejumlah produsen kerupuk kulit atau dorokdok di Kabupaten Garut mengeluhkan proses produksi yang terus menerus menggunakan cara tradisional.

Dari proses penjemuran hingga pengemasan, para produsen kerupuk kulit masih mengandalkan cara tradisional yang memakan waktu lama.

Akibatnya, dari total hasil kerupuk kulit yang diproduksi, yang benar-benar layak untuk dipasarkan hanya sekira 80 persen saja.

Seorang produsen kerupuk kulit, Firwan Setiawan mengatakan bahwa kesulitan paling utama yang dihadapinya adalah proses penjemuran.


Menurut Firwan, proses penjemuran kulit sampai siap digoreng biasanya memakan waktu empat hingga tujuh hari.

"Padahal waktu menggorengnya hanya beberapa menit saja," kata Firwan di Kampung Sukaregang, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jumat (12/1/2018).

Ia mengatakan, untuk menyiasati durasi penjemuran kulit ada beberapa cara lain, yakni menggunakan alat pemanggang (oven).

"Harga oven mahal, bisa sampai Rp 5 juta. Modalnya hanya cukup untuk beli bahan baku," ujarnya.

Untuk mengembangkan bisnis ini, Firwan berharap adanya bantuan dari pemerintah, baik dari segi permodalan ataupun pelatihan.

"Hingga saat ini belum ada campur tangan pemerintah," ujarnya.

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Jannisha Rosmana Dewi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved