Bermodal Nampan, Zaenal Terjun ke Sungai dan Kesampingkan Banjir demi Hidupi Istri dan Enam Anak
Sudah lebih dari lima tahun Zaenal mencari nafkah lewat pasir dan batu hanya demi menghidupi istri dan enam anaknya yang masih hidup bersamanya.
Penulis: Muhamad Nandri Prilatama | Editor: Ravianto
Laporan wartawan Tribun Jabar, M Nandri Prilatama
TRIBUNJABAR.CO.ID, CILILIN - Zaenal pria berusia 42 tahun warga asal kampung Pabuaran RT 1 RW 11, Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat seorang pekerja pencari pasir dan batu di sungai Ciminyak, tepatnya di bawah jembatan yang rusak diterjang banjir 2016 lalu.
Hanya bermodalkan nampan dan penyaring, Zaenal mulai menceburkan kakinya di dinginnya air sungai Ciminyak dan sejuknya udara di daerah yang masih asri itu. Sinar matahari pun mulai sedikit memancarkan sinarnya pukul 07.35 wib.
Sudah lebih dari lima tahun Zaenal mencari nafkah lewat pasir dan batu hanya demi menghidupi istri dan enam anaknya.
Dia menyebut tidak ada mata pencaharian lagi selain mencari pasir dan batu yang bisa dilakukannya.
Usai runtuhnya jembatan yang menghubungkan Kampung Bonceret dan Pabuaran di 2016, Zaenal merasa pekerjaannya mencari pasir dan batu menjadi lebih berat.
Baca: Resmi: Barcelona Dapatkan Philippe Coutinho dengan Bea Transfer Rp 2,5 Triliun
Baca: Pelatih Bhayangkara FC Girang dengan Perekrutan van Dijk
Baca: Kisah Sedih di Balik Teganya Taufik Racuni Anak Hingga Tewas
Karena dirinya mesti melakukan pekerjaan tambahan lagi, seperti memikul kembali pasir-pasir yang telah dikumpulkan di atas sungai untuk di bawa ke seberang sungai menuju Kampung Bonceret.
"Itu sangat memakan waktu dan tenaga. Biasanya dalam sehari pekerjaan saya bisa selesai dan langsung bisa dibawa oleh mobil pikap, tapi sekarang sehari saja tidak bisa melainkan perlu tiga hari baru selesai dan mengangkut ke seberang kampung," katanya di sela-sela Zaenal mengumpulkan pasir, Sabtu (6/1).
Dengan tidak menggunakan sandal dan kaki-kaki yang tampak banyak bekas luka, dia gigih memikul pasir satu demi satu pikulan.
Untuk satu pasir mobil pikap, Zaenal menyebut konsumen biasa membeli dengan harga Rp 250 ribu, sedangkan jika yang membelinya dari material Rp 220 ribu.
"Harga batu pun sama untuk satu mobil pikap. Tapi, saya jarang untuk mencari batu lebih sering mencari pasir," ujarnya.
Dia pun menginginkan adanya perbaikan jembatan secepatnya dari Pemkab Bandung Barat, agar pekerjaannya pun semakin lebih ringan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/pencari-pasir-di-sungai-ciminyak_20180107_070221.jpg)