Santri yang Tewas Usai Melompat dari Mobil Pikap Dikenal Jenius dan Rajin Salat Subuh Berjamaah

Pimpinan Pondok Pesantren Riyadlul Sorpiah, KH Muklis Immamudin mengatakan. . .

Santri yang Tewas Usai Melompat dari Mobil Pikap Dikenal Jenius dan Rajin Salat Subuh Berjamaah
DOKUMENTASI TRIBUNNEWS
Illustrasi 
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ferri Amiril Mukminin
TRIBUNJABAR.CO.ID, CIANJUR - Seorang santri tewas dan dua lainnya mengalami luka serta harus menjalani penanganan di IGD RSUD Cianjur usai lompat dari mobil pikap di Jalur Lingkar Timur, Kecamatan Karangtengah, Kamis (28/12/2017) malam. 

Aksi nekat itu dilakukan seorang santri untuk menghindari penodongan dari dua orang laki-laki di mobil yang sama-sama ditumpangi.

Dari keterangan yang dihimpun, kejadian itu bermula ketika tiga korban, yakni RA (14), ES (16), dan A (16) hendak pergi ke salah satu pengajian dan haul ulama di Desa Maleber, Kecamatan Karangtengah. 

Para santri Ponpes Riadus Ropiah di Kampung Nagrog, Desa Gasol, Kecamatan Cugenang, itupun menumpang kendaraan dari Cugenang ke perempatan lingkar timur.

Setibanya di perempatan jalan, mereka turun dan mencari tumpangan lainnya untuk tiba ke tujuan.
Sekira pukul 20.00 WIB, mereka mendapatkan tumpangan dari mobil pikap yang terlebih dulu sudah ditumpangi dua orang yang belum diketahui identitasnya.

"Katanya mereka mau ikut ke acara haul salah satu ulama di Maleber Karangtengah, jadinya memaksakan untuk numpang ke pikap karena tak ada ongkos," ujar Kepala Desa Gasol, Angga Kartiwa saat ditemui di RSUD Cianjur, Jumat (29/12/2017) dini hari.

Belum lama mereka berada di pikap, dua orang yang sudah lebih dulu menumpang ternyata malah memaksa meminta uang dan menodong mereka dengan senjata tajam.
Merasa terkejut dan takut lantaran ditodong senjata tajam, ketiga santri itupun melompat dari pickup yang sedang melaju kencang tersebut.

Ternyata keputusan untuk lompat itu malah membawa petaka bagi ketiganya, lantaran posisi jatuh mereka sangat fatal.
Bahkan, sarung dari A (16) sempat tersangkut ke bagian melakang pikap, sehingga bagian kepala terjatuh terlebih dulu. Akibatnya santri tersebut meninggal seketika di lokasi kejadian.

Sementara itu, dua santri lainnya yakni RA dan ES menjalani penanganan medis secara intensif di RSUD Cianjur.
Bahkan ES hingga Jumat pagi masih kritis lantaran luka parah pada bagian kepala dan leher, sedangkan RA mengalami patah kaki.

"Meninggal seorang, yang satu kritis, dan satu lagi luka berat serta masih shock berat," ujar Angga.

Babinkamtibmas Desa Sindanglaka, Aiptu Budi yang pada saat kejadian sedang bertugas di pos pengamanan ops lilin di Karangtengah, mengatakan, kejadian tersebut bukan seperti yang beredar di media sosial, dimana mendapatkan penodongan dari geng motor.
Tapi kejadian itu lantaran ada penodongan dari dua orang yang juga menumpang dengan para santri.

"Tadi petugas sudah olah tempat kejadian juga. Mereka lompat karena ditodong dengan sebuah alat di dalam pakaian pelaku yang sama-sama menumpang di mobil pickup," katanya.
Tak Pernah Tinggalkan Salat Subuh Berjamaah

A (14), seorang santri Pesantren Riyadlu Sorpiah yang tewas karena melompat dari mobil pikap saat dimintai uang, dikenal sebagai sosok yang jenius di lingkungan pesantren.

 

Pimpinan Pondok Pesantren Riyadlul Sorpiah, KH Muklis Immamudin mengatakan, ia sangat kaget dan kehilangan sosok yang dikenal cerdas oleh ustaz dan santri.

Muklis mengatakan bahwa santri yang tewas tersebut umurnya masih muda tapi sudah berada di kelas yang lebih tua.

Ia mengibaratkan usia kelas 1 SMP namun kini ia berada bersama dengan santri lain di tingkat kelas 3 SMP. Korban juga dikenal ahli salat berjamaah yang tak pernah ketinggalan salat Subuh.

Muklis mengatakan memang santrinya sangat bersemangat mengikuti setiap pengajian di berbagai daerah yang berdekatan dengan pesantren.

"Namun semalam saya tak mengetahui keberangkatan para santri," ujarnya.

RA (14) seorang rekan dari A yang menderita patah kaki menceritakan kejadian singkat kepada pimpinan pondok pesantren tempat dimana ia menuntut ilmu.

"Kejadiannya tak begitu lama setelah kami berada di bak mobil, ada dua orang. Satu orang di antaranya meminta uang," katanya. Karena takut, ketiganya pun melompat.

Nia Halimatusadiah (35), ibu dari RA mengatakan bahwa anaknya memang semalam pamit mau pergi ke pengajian muludan di kawasan Karangtengah.

"Iya semalam anak saya pamit mau pergi pengajian, saya kaget juga setelah diberi kabar bahwa anak saya kecelakaan," katanya.

Kasatreskrim Polres Cianjur, AKP Benny Cahyadi mengatakan bahwa kejadian tewasnya santri yang lompat dari mobil pikap masih ia selidiki dengan menggali keterangan dari korban.

"Korban naik mobil pikap. Di sana sudah ada dua orang yang naik. Lalu dimintai uang, karena takut korban lompat dan terjatuh," katanya.

Benny mengatakan beberapa keterangan dari korban akan dijadikan dasar untuk mengejar para pelaku.

Terpisah, satu orang korban lainnya ES (16) masih kritis dan menjalani perawatan intensif di RSUD Sayang Cianjur.

Penulis: Ferri Amiril Mukminin
Editor: Fauzie Pradita Abbas
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help