Kisah Inspiratif

Luar Biasa! Pemuda 'Pemalas' Ciptakan Alat Rumah Tangga Otomatis, Dijual hingga ke Luar Negeri

Yoshiadi Wicaksono, lulusan Institut Teknologi Sepuluh November, menentang permintaan orangtuanya.

Luar Biasa! Pemuda 'Pemalas' Ciptakan Alat Rumah Tangga Otomatis, Dijual hingga ke Luar Negeri
modegi.com
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Widia Lestari
TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Yoshiadi Wicaksono, lulusan Institut Teknologi Sepuluh November, menentang permintaan orangtuanya.
Pria berusia 26 tahun ini, bersikukuh ingin menjadi seorang pengusaha.
Yoshiadi Wicaksono, CEO Modegi usai menceritakan jenis inovasi produknya kepada Tribun Jabar, di satu kafe Jalan Ranggamalela, Kota Bandung, Kamis (14/12/2017).
Yoshiadi Wicaksono, CEO Modegi usai menceritakan jenis inovasi produknya kepada Tribun Jabar, di satu kafe Jalan Ranggamalela, Kota Bandung, Kamis (14/12/2017). (tribunjabar/widia lestari)
"Saya meminta orangtua saya menunggu satu tahun. Dalam waktu itu, saya harus menunjukkan berhasil berbisnis sendiri," kata Yoshiadi, CEO Modegi, saat ditemui Tribun Jabar di Ngopi Doeloe, Jalan Ranggamalela, Kota Bandung, Kamis (14/12/2017).
Terbukti, setahun kemudian ia mendapatkan suntikan dana Rp 200 juta, guna mengembangkan usaha yang dirintisnya.

Bersama ketiga teman sekolahnya, Ditia Fajrin Febrian, Nur Rohman Fajri, dan Yusril Dinar, mereka lolos masuk program inkubasi Indigo Creative Nation, milik Telkom Indonesia.
"Kami diinkubasi selama setahun di Bandung Digital Valley. Dana tersebut kami gunakan untuk memvalidasi ide bisnis kami," ujarnya.
Empat sahabat karib ini, membangun startup bernama Modegi.
Selain cita-cita jadi pengusaha, mereka membawa misi serupa, yakni ingin memberikan kemudahan dan efisiensi terhadap gaya hidup di rumah.
"Kami terdiri dari orang-orang yang pemalas. Maka dari itu, kami membuat produk yang bisa memudahkan aktivitas di rumah, tanpa menyentuh alat tersebut," tuturnya sambil tersenyum.
Lulusan teknik elektro ini, menciptakan produk perlengkapan rumah otomatis.
Mulai dari smart lamp, smart plug, smart curtain, smart power meter, smart control box, dan motion sensor.
Produk ini bisa berfungsi otomatis melalui sebuah aplikasi pada ponsel pintar.

Penggunaan produk ini mengandalkan Internet of Things (IoT).
Produknya ini bisa bekerja melalui koneksi internet yang berasal dari wifi di rumah.
Oleh karena itu, penggunaan kelengkapan rumah tersebut masih tetap berfungsi, meskipun jauh dari rumah.
Awalnya, mereka hanya membuat satu purwarupa smart lamp, berupa soket lampu.
Pemuda asal Bandung ini, menguji purwarupa produknya dari rumah ke rumah.
Yoshidia dan kawannya memilih rumah secara acak. Mereka meminta kesediaan pemilik rumah mencoba produknya.
"Kami tiga kali uji coba hingga produk ini berfungsi secara sempurna," ujarnya.
Yoshidia tampak antusias, ia kerap tertawa saat menceritakan perjalanan bisnisnya.
Perawakannya yang tampak lebih muda, serta gaya fesyen casual kerap dipandang sebelah mata.
Saat ia dan timnya mempresentasikan produk di depan klien, mereka tampak diragukan.
"Ini benar kalian yang buat ini?" kata Yoshidia menirukan ucapan klien yang ia temui.
Keempat pemilik Modegi ini hanya bisa tersenyum dan berkata jujur.

Namun, para klien takjub saat produk yang didemonstrasikannya berfungsi secara sempurna.
"Kadang-kadang kami mengajak orang lain yang lebih tua dan berpakaian rapi, agar tim kami terlihat lebih profesional," kata Yoshidia sambil tertawa lepas.
Mereka memasarkan sebagian produknya ke perumahan, apartemen, dan perusahaan lainnya di beberapa kota besar.
Selain produk yang dijual ke perusahaan, Modegi memasarkan produk secara online melalui website dan e-commerce.
Produknya, kata dia, banyak dibeli oleh orang Indonesia dan Malaysia.
"Di Indonesia kami tidak punya kompetitor sehingga teknologi yang kami tawarkan laris. Termasuk, orang Malaysia pun sangat tertarik produk-produk ini," katanya.
Dalam sebulan, Modegi rata-rata mendapatkan omzet Rp 60 juta per bulan.
Dari awal berdiri hingga sekarang, mereka masih bertahan mengelola bisnis beranggotakan empat orang.
Mereka bekerja setiap hari tanpa lelah, bahkan hampir 24 jam.
Mulai dari membuat produk, melayani pelanggan, mengurus keuangan, dan mendapatkan klien.
"Punya startup itu asik, bebas, dan semau kita, tapi penuh tantangan. Kami harus dituntut terus berinovasi dan bertahan hidup," kata Yoshidia sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Menurutnya, tak sedikit startup gagal mempertahankan bisnisnya.
Namun ia tetap percaya diri dan tidak takut.

Yoshidia merasa yakin akan kekuatan timnya yang solid dan peduli satu sama lain.
Ia mengaku hanya mendapatkan sekali pendanaan, saat inkubasi selama setahun.
Namun bisnisnya masih terus berjalan secara sehat. Mereka bahkan banyak mengembangkan produk baru.
"Kami akan terus konsisten mengembangkan produk untuk smart home," ujar Yoshidia.
Editor: Fauzie Pradita Abbas
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help