Kisah Inspiratif

Usia Baru 9 Tahun Ditinggal Mati Ayah, Ibu 'Hijrah' ke Malaysia, Wida Terpaksa Berjualan Cimol

Keadaan membuatnya harus berjualan untuk bisa menyambung hidup, ayahnya, Idang, yang. . .

Usia Baru 9 Tahun Ditinggal Mati Ayah, Ibu 'Hijrah' ke Malaysia, Wida Terpaksa Berjualan Cimol
Tribun Jabar/Yudha Maulana
Wida Ningsih (9), Murid kelas 5 SDN Kertaweusi, Kecamatan Pasirjambu itu setiap harinya menjajakan cimol yang telah dibungkusi tersebut kepada guru-guru dan teman-temannya. 
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Yudha Maulana
TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Wida Ningsih (9) segera mengemasi kantong plastik yang berisi cimol dagangannya ketika bel tanda istirahat berbunyi.
Murid kelas 5 SDN Kertaweusi, Kecamatan Pasirjambu itu segera menjajakan cimol yang telah dibungkusi tersebut kepada guru-guru dan teman-temannya.
Keadaan membuatnya harus berjualan untuk bisa menyambung hidup, ayahnya, Idang, yang bekerja sebagai kuli bangunan, meninggal karena mengalami kecelakaan saat bekerja dua tahun yang lalu. 
Sementara sang ibu, Gunis, dikabarkan bekerja ke Malaysia sebagai TKW.
Jangankan menafkahi, sejak dua tahun yang lalu tak ada kabar mengenai keberadaan sang bunda.
Ibunya pun pamit tanpa memberi kabar kepada keluarga, termasuk kepada Wida.
Saat ini Wida tinggal bersama nenek dan uwaknya di sebuah rumah semi permanen pemberian pemerintah desa di Kampung Sindanglayung 02/09, Desa Mekarmaju, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung.
Walau demikian, keduanya memiliki keterbatasan dalam mengurus Wida.
Mak Inin (87), sudah renta dan bungkuk. Sedangkan uwaknya, Mak Eno (50), mengalami keterbatasan fisik di bagian tangan, leher, mata dan dadanya akibat terbakar pada sebuah kecelakaan di rumahnya beberapa tahun yang lalu.
Oleh karena itu, untuk menyambung hidup, Wida rela berjualan cimol untuk membantu meringankan beban keluarganya.
"Satu bungkus cimol ini, saya jual dengan harga seribu. Ada tetangga yang suka bikin, sehari mengambil 20-30 bungkus,"  kata Wida saat ditemui di sekolahnya, Rabu (13/12/2017).
Bila dagangannya laku terjual, Wida mengantongi Rp. 10.000.
Biasanya, ia mengantongi uang empat hingga enam rupiah perharinya.
Uang itu ia berikan kepada neneknya sebagian, sisanya ia tabungkan. 
"Ingin membantu nenek, tapi kadang kalau dapatnya sedikit, nenek tidak pernah mengambil uang itu, untuk saya saja katanya," ujarnya.
Walau beban berat menimpanya, Wida tak mau mengeluh sedikit pun.
Ia pun tak merasa malu atau gengsi berjualan cimol, meskipun pada jam istirahat anak-anak sebayanya bermain atau jajan.
Kendati berusaha tegar, terkadang dirinya dihinggapi kesepian yang mendalam pasca-ditinggalkan kedua orang tua dan adiknya.
Sebagai penawar rasa rindu, ia kerap tidur berselimutkan kain samping milik yang sang ibu.
"Wida kangen dengan ibu, ayah dan adik. Wida hanya bisa mendoakan agar ayah dan adik tenang di sana, dan ibu bisa kembali pulang," katanya.
Sehari-harinya, Wida berangkat pagi untuk pergi ke sekolah, tak lupa ia mengambil cimol dari rumah tetangganya. Sepulangnya sekolah, terkadang ia bermain dengan anak-anak sebayanya. "Kalau malam ya mengaji," katanya.
Mak Inin, nenek Wida, tak bisa berbuat banyak melihat kondisi cucunya. Kadang ia pun merasa terpukul ketika melihat Wida murung, teringat akan ayah dan ibunya, yang notabene merupakan anak kelimanya. 
"Emak juga suka lihat, Wida tidur di ujung sana (menunjukkan tempat tidur dari busa), sambil memeluk kain milik ibunya, kemarin sudah seminggu, Wida sakit," kata Mak Inin yang pernah bekerja sebagai buruh di kebun milik PTPN itu.
Inin mengatakan, pihak keluarga berupaya untuk menelusuri keberadaan Gundis, dengan dibantu pihak desa, kepolisian dan tentara.
Diketahui, Gundis berangkat dengan sponsor yang berada di Kabupaten Cianjur melalui seorang perantara.  
"Sampai saat ini belum ada kelanjutan lagi, RW atau desa juga susah melacak, karena Gundis, tidak memberitahu kapan berangkat kepada saya, ibunya dan Wida," kata Inin.
Untuk biaya hidup sehari-hari, ujar Inin, terkadang ada uluran tangan dari saudara maupun pihak desa. "Kemarin juga ada polisi yang bantu dan TNI ke sini, mereka juga bantu membenahi rumah ini yang sudah lapuk," katanya.
Kepala Desa Mekarmaju, Usep Bunyamin, mengatakan Wida sekeluarga termasuk ke dalam penerima manfaat bantuan dari desa. Pihak desa pun membantu memfasilitasi rumah dan listrik.
"Di daerah tempat Wida tinggal, memang daerah yang rawan sosial, tapi kita bantu," katanya.
Penulis: Yudha Maulana
Editor: Fauzie Pradita Abbas
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved