TribunJabar/

Difteri Jadi Kasus KLB, RS Hasan Sadikin Berharap Informasi dari Masyarakat

Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa baik anak-anak maupun orang dewasa.

Difteri Jadi Kasus KLB, RS Hasan Sadikin Berharap Informasi dari Masyarakat
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
VAKSIN PENCEGAH TETANUS - Sejumlah pekerja mengepak Vaksin Jerap Td ke dalam dus di Gedung Distribusi PT Bio Farma (Persero), Jalan Pasteur, Kota Bandung, Selasa (30/9). Sebanyak 33.700 vil Vaksin Jerap Td untuk vaksinasi pencegah penyakit tetanus, difteri toksoid. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Yongky Yulius

TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung berharap masyarakat dapat kooperatif dengan dinas terkait setempat apabila di daerahnya ditemukan kasus pasien dengan penyakit difteri.

"Apabila mengetahui difteri di sekitarnya, harus menerima apa yang dilakukan oleh dinas setempat. Misal, dari RSHS didapat informasi pasien difteri berasal dari daerah tertentu," ujar Staf SMF Kedokteran Anak RSHS Bandung, Dr Anggraeni Alam, dr Sp.A(K), Selasa (5/12/2017) di Studio Cendana RSHS Bandung.

"Kami sangat berharap, dari informasi pasien yang dirawat, kemudian, orang-orang di rumah pasien berasal atau teman di kelasnya akan dilakukan penanganan secara komprehensif."

Baca: Pria yang Mengaku Punya Indera Keenam Ini Ramalkan Akan Ada Gempa Dahsyat di Samudera Indonesia

Baca: Mengaku Diperintah Polisi Masuk Jalur Busway, Dewi Perssik: Saya Nggak Boleh Ngomong Siapa Polisinya

"Sejumlah orang yang sering melakukan kontak dengan pasien difteri juga harus diperiksa, diberikan antibiotik profilaksis, dan dilengkapi imunisasinya."

Difteri merupakan infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat mempengaruhi kulit.

Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa baik anak-anak maupun orang dewasa.

Dukungan atau sikap koperatif dari masyarakat dan pemerintah setempat mutlak dibutuhkan, karena, sambung Anggraeni, kasus difteri ini merupakan Kejadian Luar Biasa (KLB).

"Ini menjadi suatu masalah. Karena pemerintah menetapkan bahwa difteri merupakan suatu Kejadian Luar Biasa (KLB). Berdasarkan pedoman, penyakit difteri, satu saja kasus merupakan suatu kejadian luar biasa," ujarnya.

Karena itu, dikatakan Anggraeni, Dinas Kesehatan harus melakukan tata laksana yang telah ditentukan.

"Sehingga tata laksananya sudah dilakukan sejak dulu, oleh Dinas Kesehatan. Pertama, pencarian kasusnya, atau mendapat kasusnya," katanya.

Kemudian disisir lagi kontak dengan kasusnya, sehingga dilakukan penanganan untuk kasusnya. Pemberian anti toksin, anti bakteri. Pasien juga diisolasi karena penyakit ini sangat menular."(*)


Penulis: Yongky Yulius
Editor: Ravianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help