Sorot

"wartawan" Pemeras

...memang ada juga wartawan yang tergoda menjadi kriminal. Jika mereka memeras, laporkan saja. Foto wajah mereka dan sebarkan melalui media sosial.

DOKUMENTASI TRIBUN JABAR
borgol kriminal 

Arief Permadi, Wartawan Tribun Jabar

PENIPUAN dan pemerasan yang dilakukan oleh oknum yang mengaku wartawan terjadi sejak lama. Korbannya terdiri dari beragam kalangan, profesi, dan strata sosial. Terjadi hampir setiap tahun di hampir semua kota dan kabupaten di Indonesia.

Modus yang mereka lakukan juga sangat beragam. Ada yang halus ada yang terang- terangan. Bahkan ada pula yang menjurus kasar.

Kalangan guru, pengusaha, dan mereka yang bekerja di pemerintahan adalah kalangan yang kerap menjadi target empuk para penipu dan pemeras yang mengaku-aku wartawan ini. Pemahaman yang keliru tentang sosok wartawan serta bagaimana sistem kerja mereka, menjadi alasan kuat mengapa itu terjadi. Ketakutan untuk melapor juga menjadi faktor kunci kenapa peristiwa serupa terus saja berulang.

Peristiwa terbaru (yang terungkap) terjadi di Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur. Komplotan pemeras yang mengaku wartawan ini sukses menakut-nakuti korbannya hingga memberikan sejumlah uang. Aksi komplotan ini terbongkar setelah si korban tak tahan dan melaporkan perbuatan kelompok tersebut karena terus menerus diperas.  Sebelumnya, kompotan ini suda dua kali memintainya uang.  Si korban sudah memberi mereka Rp 31 juta.

Kelompok "wartawan" di Karangtengah ini adalah kelompok spesialis kabar-kabar selingkuh. Modusnya, membuntuti korban hingga ke hotel atau ke penginapan di mana korbannya biasa bertemu dengan selingkuhan. Setelah mendapat foto yang diinginkan, para tersangka menghubungi korban meminta sejumlah uang. Menurut Kapolsek Karangtengah, Kompol Agus Jamaludin, seperti dikutip Tribun Jabar, Selasa (28/11), para tersangka mengancam akan memublikasikan foto perselingkuhan itu jika keinginan mereka tak dipenuhi.

Menyusul laporan korban, polisi yang sigap bergerak membekuk empat dari enam pelaku di beberapa lokasi berbeda. Polisi menduga ini bukan aksi pertama dari kelompok tersebut. Kelompok ini "bertahan" karena kebanyakan korbannya tak melapor.

Keberanian korban untuk melapor, sekali lagi memang menjadi kunci dari bisa atau tidaknya tindak kriminal pemerasan dengan modus pura-pura menjadi wartawan ini dihentikan. Sebab, pada hampir semua kasus pemerasan yang dilakukan oknum yang mengaku wartawan, ancaman yang diberikan hanyalah gertakan. Mereka hanya akan berani "terus maju" jika korban memperlihatkan rasa takut. Padahal, layaknya para pelaku kriminal, langkah hukum selalu menjadi hal yang paling ditakui oleh para kriminal berkedok wartawan ini. Jangan sekali-kali memberi, karena dengan memberi, mereka pasti kembali.

Di luar kriminal yang mengaku-ngaku wartawan, memang ada juga, wartawan, benar- benar wartawan, tapi juga kriminal. Jika mereka memeras, laporkan saja pada polisi. Foto wajah mereka dan sebarkan melalui media sosial.

Percayalah, bahkan bagi penjahat sekalipun, tindak kriminal itu tetaplah aib yang memalukan. Apalagi jika yang memeras ini ternyata sungguh wartawan.

Salah satu "wartawan" yang belum lama ditangkap polisi di Karangtengah mengaku mendapat kartu identitas wartawannya dengan cara membeli. Dii salah satu percetakan di Cianjur, ujarnya, harganya cuma Rp 350 ribu. (*)

Penulis: Arief Permadi
Editor: Arief Permadi
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved