SOROT

Dalem Kaum dan Banjir Dayeuhkolot

Dalem Kaum memindahkan Dayeuhkolot ke Cikapundung, bukan semata karena ada surat permintaan dari Gubernur Jenderal HW Daendels.

Dalem Kaum dan Banjir Dayeuhkolot
dokumentasi
Kisdiantoro

Oleh Kisdiantoro
Wartawan Tribun Jabar

Dayeuhkolot, sebuah desa dan juga nama kecamatan di Kabupaten Bandung, belakangan menyedot banyak perhatian. Dayeuhkolot dan sejumlah daerah lain di Kabupaten Bandung dilanda banjir.

Banjir mengakibatkan warga kerepotan, mengungsi ke rumah saudara atau tempat penampungan sementara. Atau bertahan di atap rumah dengan perbekalan seadanya.

Warga juga dibuat repot karena tidak bisa menjalankan aktivitas rutin secara normal. Anak-anak sekolah terpaksa libur karena gedung sekolah terendam, sebagian masyarakat libur bekerja karena akses jalan terputus, setok makanan berkurang karena pasar pusat jual beli sembako juga libur.

Banjir di Dayeuhkolot dan sekitarnya itu bukanlah yang pertama. Dalam sejumlah catatan sejarah Bandung, Dayeuhkolot tercatat sudah mengalami banjir saat Bandung diperintah oleh bupati ke-6, RA Wiranatakusumah II atau yang kemudian dikenal dengan sebutan Dalem Kaum I (1794-1829). Saat itu, Dayeuhkolot bernama Krapyak.

Dalem Kaum yang namanya kini menjadi nama jalan di sisi selatan Alun-alun Kota Bandung, adalah bupati yang berhasil memindahkan ibukota Bandung yang semula berada di Dayeuhkolot ke kawasan di dekat Sungai Cikapundung, atau yang kini menjadi rumah dinas Wali Kota Bandung Ridwan Kamil.

Kepindahan pusat pemerintahan Bandung pada 1809 itu juga diikuti berpindahnya warga Bandung menuju daerah-daerah baru di barat ibukota Bandung.

Dalam catatan sejarah Bandung disebutkan, warga kemudian bermukim di daerah yang kini disebut kawasan Cipaganti, Balubur, Kebon Kawung, dan kawasa yang kini berdiri Gedung Pakuan.

Dalem Kaum memindahkan Dayeuhkolot ke Cikapundung, bukan semata karena ada surat permintaan dari Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, yang menghendaki pusat pemerintahan berada di dekat jalan yang sedang ia bangun (1808).

Jalan yang dikenal dengan nama Jalan Raya Pos, Jalan Raya Daendels, atau Jalan Anyer-Panarukan. Pemindahan ibukota itu karena Dayeuhkolot dinilai tidak strategis dan kerap dilanda banjir ketika musim penghujan tiba.

Halaman
12
Penulis: Kisdiantoro
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help