TribunJabar/

Hasil Pembakaran Sampah di Nambo Bisa Jadi Bahan Produksi Semen

Proses pembangunan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Regional Nambo di Bogor memasuki pembicaraan kesepakatan pembiayaan

Hasil Pembakaran Sampah di Nambo Bisa Jadi Bahan Produksi Semen
TRIBUNJABAR.CO.ID/THEOFILUS RICHARD
Sekda Jabar, Iwa Karniwa melayani pertanyaan wartawan di Gedung Sate, Bandung, Jumat (22/9/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, M Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Proses pembangunan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Regional Nambo di Bogor memasuki pembicaraan kesepakatan pembiayaan antara perusahaan pemenang lelang, yakni PT Jabar Bersih Lestari (JBL), dengan PT Indocement yang akan membeli produk sampah kering untuk bahan produksi semen.

Sekda Jabar Iwa Karniwa mengatakan pembicaraan kesepakatan antara kedua belah pihak tersebut ditargetkan bisa rampung dalam waktu dekat dan paling lambat tuntas pada Desember 2017.  

Iwa mengatakan sejumlah perkembangan positif dalam proses pembangunan TPPAS Nambo ini terlihat dari negosiasi antara PT JBL dengan PT Indocement.

Baca: Polsek Dayeuhkolot Bantu Angkut Warga Melewati Banjir

"PT Indocement akan membeli hasil pengolahan sampah di TPPAS Nambo sebagai bahan produksi pembuatan semen. Soal financial closing harus diselesaikan, tapi perkembangannya sampai saat ini masih positif,” kata Iwa di Gedung Sate, Rabu (15/11).

Hasil sampah pengolahan yang dibeli PT Indocement sendiri berbentuk Refuse Derived Fuel (RDF) yang merupakan sampah kering yang akan menjadi bahan baku produksi semen. Iwa menuturkan harga jual RDF diharapkan wajar agar tipping fee kabupaten dan kota yang memanfaatkan TPPAS Nambo lebih rendah. 

Iwa mengatakan Pemprov Jabar tinggal menunggu kesepakatan RDF tersebut karena sudah masuk ranah bisnis kedua belah pihak. Iwa meminta PT JBL dapat menjual hasil pengolahan sampah dengan harga yang wajar pada PT Indocement.


“Kami berharap ada harga yang wajar untuk keduanya yang disepakati. Tapi kami tidak ikut campur, dan sudah meminta agar segera didapatkan kesepakatan,” ucapnya.

Iwa mengatakan jika sudah disepakati harga jual RDF, nantinya akan dilanjutkan dengan proses konstruksi pembangunan oleh PT JBL. Pendirian TPPAS Nambo, katanya, agar Bogor Raya segera bisa memiliki tempat penanganan sampah berstandard internasional.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jabar, Anang Sudarna, mengatakan pihaknya yakin konsorsium PT JBL memiliki komitmen kuat dan finansial yang kuat juga dalam menjalankan proyek tersebut. Anang juga berharap proses pembangunan akan berjalan lancar karena kebutuhan akan TPPAS yang akan melayani Bogor Raya ini sudah sangat mendesak.

Menurut anang, dari sekitar 1.500-1.800 ton kapasitas sampah yang bisa diolah, sekitar 30 persen atau 500-600 ton bisa diproses menjadi RDF di TPPAS Nambo. Pihaknya menjamin teknologi RDF ini sangat ramah lingkungan. 

"Sebab pada implementasinya, teknologi RDF sudah digunakan di Korea Selatan. Itu 35 persennya bisa menggantikan batu bara yang dibakar di PT Indocement. Ramah lingkungan juga," katanya. (*)

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help