SOROT

Belajar dari Longsor Cipelah, Bencana Datang Tak Disangka-sangka, Bersiaplah!

Jika ada yang memprediski bakal terjadi longsor lagi di Jawa Barat, maka hal itu sangat mungkin terjadi ...

Belajar dari Longsor Cipelah, Bencana Datang Tak Disangka-sangka, Bersiaplah!
dokumentasi
Kisdiantoro

Oleh Kisdiantoro, Wartawan Tribun Jabar

Waspada longsor! Dua kata ini yang kini sedang banyak disampaikan pascalongsor di Kampung Muara, Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Senin (30/10) dini hari. Para pakar geologi, pejabat pemerintahan, orang-orang yang peduli dengan lingkungan, menasihati warga Jawa Barat, terutama mereka yang tinggal di daerah rawan bencana longsor untuk sigap jika menemukan indikasi akan terjadi longsor.

Desa Cipelah memang masuk zona rawan longsor. Oleh karenanya, pemerintah Kabupaten Bandung, kerap melakukan mitigasi bencana ke daerah tersebut. Bahkan, sehari sebelum tragedi longsor yang menelan korban empat orang meninggal dunia itu terjadi, pihak Kecamatan Rancabali, telah melakukan sosialisasi pencegahan bencana.

Semua tak menyangka, pada malamnya terjadi longsor. Dari kejadian tersebut, tak ada yang menyanggah bahwa bencana bisa datang kapan saja, saat masyarakat dalam keadaan waspada atau dalam tidur lelap.

Mitigasi bencana menjadi penting untuk terus dilakukan. Pemerintah tak ada alasan untuk menunda memberikan pemahaman bahwa daerah yang ditempati masyarakat masuk dalam zona bencana karena tanahnya labil dan mudah longsor. Jika warga mengenal wilayahnya, ke mana harus lari dan mengungsi jika terjadi bencana, maka risiko terjadi korban jiwa akan sedikit. Jika warga dengan kesadarannya memilih pindah ke tempat lain yang lebih aman setelah ada mitigasi, maka itu akan lebih baik.

Mitigasi itu tak hanya sekadar menjadikan warga mengenal lingkungannya, tapi juga membangun kesadaran untuk tidak melakukan alih fungsi lahan yang semula sesak dengan tanaman keras, berubah menjadi lahan sayuran. Mengapa? Karena alihfungsi lahan inilah yang kerap menjadi awal terjadinya bencana.

Semua orang mengerti bahwa longsor di antaranya disebabkan karena aktivitas pertanian di lereng. Kok bisa? Tentu saja bisa karena penataan pertanian maupun perkebunan yang buruk akan memicu longsor. Tanaman pertanian umumnya tak memiliki akar yang kuat untuk mengikat struktur tanah. Menyusutnya tanaman keras di lereng akan mudah terjadi longsor, terlebih jika berhari-hari terkena tumbuhkan air hujan.

Jika ada yang memprediski bakal terjadi longsor lagi di Jawa Barat, maka hal itu sangat mungkin terjadi karena banyak alihfungsi lahan, lereng gunung menjadi lahan pertanian, daerah tangkapan air menjadi kompleks permukiman atau tempat wisata.

Soal alih fungsi lahan ini bukan isu baru, tapi sudah sejak berpuluh tahun lalu. Setiap gubernur atau bupati/wali kota berganti, isu alih fungsi itu juga menyertainya. Penyegelan villa, rumah mewah, hotel, tempat wisata, pernah dilakukan. Namuan faktanya, lahan-lahan di daerah ketinggin tetap semakin padat oleh bangunan. Tengok saja kawasan Dago atas atau Punclut, Anda akan menemukan bangunan-bangunan besar, bertingkat, dan berlokasi di lereng.

Salah siapa bangunan segede-gede gunung itu berdiri? Pertanyaan ini akan sangat sulit dijawab, karena pengembang sampai bisa membangun tentu ada rekomendasi atau izin dari pemerintah. Tapi jika terjadi pelanggaran, menggapa dibiarkan sampai bangunan selesai terbangun. Rumit.

Pilkada serentak di 16 Kabupaten/Kota di Jawa Barat, plus pemilihan gubernu Jabar, menjadi momentum yang penting. Apa? Memilih bupati/wali kota atau gubernur yang benar-benar memiliki komitmen tinggi terhadap kelestarian alam Jawa Barat, yang secara tidak langsung akan menyelamatkan warganya dari bencana longsor atau banjir bandang.

Menyerahkan alam Jawa Barat kepada orang-orang yang tidak amanah, amat sangat berbahaya karena nyawa adalah taruhannya. Belajar dari longsor Cipelah, bencana datang tak disangka-sangka!

Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help