Cucu dan Keadilan

ENTAH apa yang ada di pikiran Cucu (27), Senin sore lalu, saat menduduki bayinya sendiri selama hampir satu jam hingga meninggal.

Cucu dan Keadilan
Arief Permadi
Arief Permadi, Wartawan Tribun Jabar

Oleh: Arief Permadi, Wartawan Tribun Jabar

ENTAH apa yang ada di pikiran Cucu (27), Senin sore lalu, saat menduduki bayinya sendiri selama hampir satu jam hingga meninggal. Lebih tak terpikirkan lagi karena tak lama berselang, setelah membersihkan dan membaringkan kembali bayinya di tempat tidur, Cucu pergi ke kantor polisi lalu mengaku. Pemaparannya detail saat menjelaskan kronologi pembunuhan itu. Tak ada senyum. Ekspresinya datar.

Cucu yang belum genap seminggu menempati rumah barunya di Karangpawitan, melahirkan anak kedua, empat bulan lalu. Rumah baru yang ia tempati bersama suami dan anak- anaknya itu berada tak jauh dari rumah kontrakan yang mereka tinggali dulu. Masih satu kampung, lokasinya berhadap-hadapan, hanya terpisah jalan.

Tak ada yang aneh di mata para tetangga tentang keluarga ini. Mereka bukan sosok-sosok tertutup. Seperti ibu-ibu muda lain yang sedang memiliki bayi, Cucu juga sering membawa bayinya keluar rumah, baik saat pergi ke warung atau sekadar berjemur.

Karena itu tak heran, saat kabar ini tersiar, sejumlah warga mengaku sulit percaya bahwa kabar itu benar. Jangankan warga, suami Cucu, yang ketika polisi mendatangi rumahnya, Senin sore untuk memastikan cerita istrinya, juga mengaku sulit percaya bahwa tragedi ini sungguh-sungguh terjadi. Saat polisi datang, suami Cucu bahkan tak tahu bahwa bayinya yang terbaring di kamar bukan sedang tidur, tapi sudah meninggal.

Sejauh ini, masti belum diketahui pasti yang sebenarnya terjadi pada Cucu hingga tiba-tiba berubah menjadi sosok yang tak berperasaan yang dengan "dingin" membunuh anak kandungnya dengan cara yang bahkan sama sekali tak terpikirkan akan menjadi cara yang akan dipilih orang untuk membunuh. Dengan bantuan para ahli, polisi masih melakukan serangkaian pemeriksaan kejiwaan terhadap pelaku. Polisi perlu berhati-hati agar bisa secara tepat menempatkan kasus ini sebagai murni kasus pembunuhan atau ada hal lainnya.

Namun, menilik berbagai hal, terutama usia korban yang empat bulan, apa yang oleh para ahli disebut sebagai post partum depression (PPD) atau gangguan kejiwaan yang dialami seorang ibu pascamelahirkan, barangkali bisa dipertimbangkan untuk ditelaah, sebelum lari ke kemungkinan-kemungkinan lain, termasuk hal mistis yang belakangan mulai disebut- sebut: menerima bisikan-bisikan gaib.

Berbeda dengan baby blues sydrome yang hanya terjadi 1-2 pekan pascamelahirkan, PPD bisa muncul secara tiba-tiba atau berkembang perlahan-lahan, dimulai pada tahun pertama pascamelahirkan. Namun, seperti halnya baby blues sydrome, gejala PPD juga sejatinya mudah dikenali. Si ibu terlihat sedih dan murung terus menerus, sering menangis tanpa sebab yang jelas, mengalami gangguan tidur malam namun cenderung mengantuk pada siang hari, sulit berkonsentrasi dan membuat keputusan, tidak tertarik pada sekitarnya, selalu bicara negatif, cepat emosi dan tidak merawat diri, cenderung menarik diri, dan tak terlihat senang punya momongan.

Kondisi-kondisi inilah yang tanpa penanganan yang tepat akan menjadi sangat parah. Pada tahap tertentu si ibu akan mulai memiliki pikiran-pikiran buruk dan kehilangan pertimbangan rasional. Pada tahap inilah keinginan menyakiti sang bayi, membunuhnya, atau bunuh diri akan mulai muncul tak tak tertahankan.

Dalam kasus Cucu -- katakanlah, para ahli kemudian menyimpulkan kasusnya sebagai kasus PPD -- adalah implikasi hukumnya. Ini membuat kita harus kembali bertanya tentang seberapa tepat konsekuensi hukum yang mungkin harus dijalani Cucu.

Bukankah, jika benar ini kasus PPD, Cucu juga adalah korban dari kasusnya? Keadilan seharusnya adalah juga sebuah kebenaran. Keadilan yang benar selalu bijaksana. (*)

Penulis: Arief Permadi
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help