TribunJabar/

Ini Kata Pengamat Transportasi ITB tentang Kisruh Angkutan Online dengan Konvensional

Kelengkapan karakteristik yang dimaksud misalnya, waktu perjalanan, harga, kepercayaan, informasi, dan lain sebagainya.

Ini Kata Pengamat Transportasi ITB tentang Kisruh Angkutan Online dengan Konvensional
net
Ilustrasi taksi online. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Yongky Yulius

TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Kisruh transportasi online (Gojek, Uber, Grab) dengan transportasi konvensional (Angkot, Ojek) terjadi karena adanya persaingan moda atau persaingan sarana angkutan dengan pasar pelanggan yang sama.

Hal itu dikatakan Pengamat Transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Shanty Yulianti Rachmat, ST MT MSc PhD, kepada Tribun Jabar, melalui ponselnya, Jumat (13/10/2017).

Baca: Pak Kades Ini Merasa Selevel Dedi Mulyadi, Punya Uang Rp 30 Miliar, Siap Nyalon Bupati di Purwakarta

"Sebenarnya, polemik ini terjadi karena persaingan moda, dilihat dari teori model transportasi adalah mode choice model," kata Shanty.

Moda transportasi online ataupun konvensional, kata Shanty, dipilih oleh masyarakat tergantung dari tingkat kepuasan relatif yang dicapai oleh masyarakat itu sendiri.


Sedangkan tingkat kepuasan relatif yang dimiliki masyarakat tergantung dari pelayanan dan kelengkapan karakteristik yang dimiliki oleh masing-masing transportasi itu.

Kelengkapan karakteristik yang dimaksud misalnya, waktu perjalanan, harga, kepercayaan, informasi, dan lain sebagainya.

Sehingga, masing-masing moda akan bersaing untuk memenuhi tingkat kepuasan relatif masyarakat semaksimal mungkin.

Halaman
12
Penulis: Yongky Yulius
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help