Sorot

Kita Mungkin Melanggar, Tapi Tak Menyesal

SEJATINYA, urusan politik memang tak masuk ke ranah olahraga. Sebab, tak bisa dibayangkan rumitnya jika . . .

Kita Mungkin Melanggar, Tapi Tak  Menyesal
Dokumentasi
Arief Permadi 

oleh: Arief Permadi, Wartawan Tribun Jabar

SEJATINYA, urusan politik memang tak masuk ke ranah olahraga. Sebab, tak bisa dibayangkan rumitnya jika hal itu dibiarkan terjadi. Olahraga akan kehilangan sisi menariknya.

Urusan politik dan olahraga ini belakangan menjadi ramai menyusul jatuhnya sanksi denda dari PSSI kepada Persib akibat koreografi bobotoh bertajuk "Save Rohingya" ketika Maung Bandung menjamu Semen Padang dalam laga Liga 1 di Stadion Si Jalak Harupat Bandung, Sabtu (9/9). Persib dianggap melanggar Kode Disipliner FIFA. PSSI menilai Persib melanggar Pasal 67.3 dari Kode Disiplin PSSI yang diterapkan sesuai dengan Kode Disipliner FIFA.

Dalam ketentuan yang berlaku secara global, FIFA menentukan bahwa pemaparan simbol politik dalam bentuk apa pun dianggap sebagai tindakan yang tidak sesuai, yang dapat dikenakan sanksi. Dan, ini sudah barang tentu, termasuk koreografi "Save Rohingya".

Dengan alasan ini, jelas tak ada terdapat hal keliru yang dilakukan PSSI dalam putusannya. Konflik Rohingya, bagaimana pun sulit dilepas dari urusan politik. Betapapun akhirnya yang terjadi adalah tragedi kemanusiaan.

Jatuhnya sanksi akibat membawa-bawa soal politik ke ranah olahraga juga bukan yang pertama di kancah sepakbola. Pada penghujung 2016, FIFA pernah menjatuhkan sanksi terhadap beberapa federasi anggotanya di Inggris Raya karena mengizinkan tim-tim nasional mereka menggunakan atribut bunga poppies pada seragam yang dikenakan pemain pada pertandingan-pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2018. Meski simbol poppies itu hanya dimaksudkan untuk memperingati korban perang dan menghormati veteran-veteran perang, FIFA tetap beranggapan bahwa itu melanggar. Olahraga harus bebas dari unsur politik.

Sebelumnya sanksi juga pernah dijatuhkan pada klub Glasgow Celtic FC karena sejumlah suporternya kedapatan membawa bendera Palestina saat pertandingan resmi yang diawasi oleh FIFA. Mereka juga didenda dengan alasan yang sama.

Dengan semua pengetahuannya tentang sepakbola, hampir bisa dipastikan bahwa para bobotoh Persib tak mungkin tak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan Sabtu lalu dengan mengusung koreografi "Save Rohingya" bisa berujung sanksi. Namun, seyakin- yakinnya, politik bukanlah landasan mereka melakukannya. Hanya kemanusiaan, tak ada yang lain.

Karena itulah, ketimbang mencaci-maki PSSI karena menegakkan aturan yang sesuai dengan Kode Disipliner FIFA, bobotoh lebih memilih "melawan" dengan membayar denda yang harus mereka bayar, meski harus patungan, koin demi koin. Yang juga harus digarisbawahi, ini bukan "perlawanan" terhadap aturan, melainkan peneguhan sikap bahwa siapa pun kita, apa pun agama yang kita anut, pelanggaran terhadap kemanusiaan harus dilawan, sekalipun hanya dengan pernyataan dukungan.

Hanya dalam waktu tiga hari sejak penggalangan koin dimulai, lebih dari Rp 50 juta yang diperlukan untuk membayar denda berhasil dikumpulkan. Tua, muda, anak-anak berdatangan memberikan sumbangannya. Bahkan The Jakmania, yang demi kemanusiaan, juga tak ragu untuk datang ke markas Viking di Bandung turut menyumbangkan koin.

Sekali lagi, demi kemanusiaan. #SaveRohingya. (*)

Penulis: Arief Permadi
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help