TribunJabar/

Dubes Inggris Moazzam Malik Ketagihan Salawatan

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik, mempunyai kenangan baik saat berkunjung ke. . .

Dubes Inggris Moazzam Malik Ketagihan Salawatan
Dokumentasi Pondok Modern Darussalam Gontor
Dubes Inggris untuk Indonesia, H.E Moazzam Malik (kiri) didampingi Kiai Hasan Abdullah Sahal (kanan), berbagi cerita di hadapan para guru dan santri di Masjid Jami Pondok Modern Darussalam Gontor, Rabu (26/4/2017), bakda salat Magrib. DOKUMENTASI PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR 

TRIBUNJABAR.CO.ID, SEMARANG - Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik, mempunyai kenangan baik saat berkunjung ke Jawa Tengah.

Kesan mendalam itu terutama saat ia diajak mengikuti kegiatan bersalawat di halaman kantor Gubernur Jateng di Kota Semarang.

Moazzam sempat takjub dan senang melihat ribuan warga melantunkan salawat. Kegiatan itu, katanya, tidak pernah dijumpai di negaranya, Inggris.

"Beliau kaget. Katanya, pengalaman orang berkumpul bersalawat baru dialaminya di Indonesia. Dia bilang begini, 'kok bisa seperti ini orang banyak bisa berkumpul. Bayar berapa?'" ujar Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menirukan ucapan Moazzam di sela silaturahim di sebuah pondok pesantren di Kebumen, Rabu (13/9/2017) malam.

"Di Inggris, hal seperti ini itu tidak ada," ujar Ganjar menirukan Moazzam.

Ganjar mengatakan, Moazzam sangat terkesan dengan pola keberagaman Indonesia. Sejak diajak bersalawat, Moazzam kerap menghubunginya agar diajak kembali melantunkan selawat lagi.

"Dia, bahkan pengen diajak lagi. Pernah juga orang Australia juga gedek-gedek (terheran) saya ajak salawatan," ia menambahkan,

Kegiatan salawat rutin digelar setiap bulan di berbagai daerah di Jawa Tengah, termasuk di Kota Semarang.

Beberapa tokoh kharismatik memimpin kegiatan salawat, di antaranya, Habib Luthfi bin Yahya dan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf.

"Dubes Inggris itu Muslim, sama seperti wali kota London. Waktu saya ajak salawat bersama Habib Syekh, beliau kaget dan seneng banget," ucap Ganjar.

Melalui kegiatan itu, kata Ganjar, Moazzam menilai keberagaman warga Indonesia sangat kuat. Hal demikian agar terus dilestarikan.

Sementara itu, Ganjar meminta pengasuh dan santri pondok pesantren memelihara dan berpegang teguh pada pendidikan karakter khas pesantren seperti sopan santun, menghormati yang lebih tua agar tetap menjadi ruh di dalam pesantren.

Tradisi yang baik itu, sambung dia, dapat menangkal masuknya paham-paham radikal yang tersebar melalui berbagai cara.

"Kita negara berperikemanusiaan yang beradab, berketuhanan. Maka, Indonesia punya ukurannya. Prinsip saling menghormati harus tetap dijaga," ujar pria 48 tahun ini.

Berita ini sudah tayang di Kompas.com dengan judul: Kesan Mendalam Dubes Inggris ketika Diajak Melantunkan Shalawat

Editor: Fauzie Pradita Abbas
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help