TribunJabar/

Selasar Soenaryo Gelar Pameran Seni Bertajuk ''e: emergence'', Siap Hadirkan 30 Seniman Muda

Pameran ini akan menjadi salah satu pameran terbesar di Selasar Sunaryo Art Space.

Selasar Soenaryo Gelar Pameran Seni Bertajuk ''e: emergence'', Siap Hadirkan 30 Seniman Muda
Tribunjabar/Isa Rian Fadilah
J Ariadhitya Pramuhendra (kanan) berkolaborasi dengan Tisna Sanjaya (kiri) dalam seni performatif berjudul Doa Bagi Yang Hidup yang terinspirasi karya Tisna Sanjaya berjudul Doa Untuk Yang Mati di Selasar Sunaryo Art Space Jalan Bukit Pakar Timur Bandung, Rabu (13/9/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Isa Rian Fadilah

TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Pameran seni rupa dua tahunan akan kembali digelar di Selasar Sunaryo Art Space di jalan Bukit Pakar Timur, Kota Bandung, pada 16 September-22 Oktober 2017.

Sebanyak 30 seniman muda alumni program dua tahunan Bandung New Emergence (BNE) akan ikut ambil bagian dalam pameran yang diberi judul re: emergence.

Baca: VIDEO: Bocah Gemuk Ini Bikin Heboh Dayeuhkolot, Naik ke Menara BTS Bugil Tanpa Alat Pengaman

Kurator re: emergence Agung Hujatnikajenong mengatakan, pameran tersebut akan menghadirkan karya-karya seniman muda yang merepresentasikan perkembangan terakhir seni rupa di Bandung. Selain sebagai ajang reuni, re: emergence pun bisa menjadi bingkai kerja kuratorial yang khusus.

"Pameran ini akan menjadi salah satu pameran terbesar di Selasar Sunaryo Art Space. Ini juga sebagai perayaan ulangtahun ke-19 Selasar Sunaryo Art Space," ujar Agung dalam konferensi pers re: emergence di Selasar Sunaryo Art Space di Jalan Bukit Pakar Timur Bandung, Rabu (13/9/2017).

Sejak 2016, kata Agung, seniman di Selasar Sunaryo tak lagi membuat karya pada media yang tak dibatasi, melainkan difokuskan pada satu medium. Menurut Agung, mekanisme tersebut bisa memberikan pembaruan terhadap suatu pameran seni, tidak hanya sekadar kegiatan reguler.

"(Re: emergence) itu pameran reuni seniman awalnya, sudah enam kali. Reputasi pameran ini cukup bergaung di tingkat nasional. Kami ingin melihat sejauh mana seniman yang sudah tampil, kemudian tampil lagi dengan karya baru. Dari ratusan seniman diseleksi jadi 30 orang. Prosesnya melihat kembali kiprah seniman mereka, baik di Indonesia maupun luar negeri," katanya.

Salah satu seni yang akan dihadirkan dalam re: emergence adalah seni performatif karya J Ariadhitya Pramuhendra. Ia mengangkat judul Doa Bagi Yang Hidup yang terinspirasi karya Tisna Sanjaya berjudul Doa Untuk Yang Mati. Di pameran tersebut, Ariadhitya akan berkolaborasi langsung dengan Tisna.

"Karya saya nanti itu menghadirkan rumah memori langsung, jadi bukan sekadar memori, tapi kita seperti melihat lagi. Ini pengalaman yang enggak ada lagi. Saya yang jadi sutradaranya, beliau (Tisna) seperti objek hidup yang mengulang performance itu lagi (doa untuk yang mati)," ujar Ariadhitya seusai mementaskan Doa Bagi Yang Hidup di depan awak media

Penulis: Isa Rian Fadilah
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help