TribunJabar/

Berita Eksklusif Tribun Jabar

Dirut PT Kresna Eka Karya Nugraha: Saya Tampung Keluhannya, Saya Juga Usaha, Gak Mau Rugi

Terkait protes yang dilakukan warga Desa Sukadana soal penuntutan pembangunan benteng penahan, pihak pengembang. . .

Dirut PT Kresna Eka Karya Nugraha: Saya Tampung Keluhannya, Saya Juga Usaha, Gak Mau Rugi
Tribun Jabar
Tanah miring di lahan perumahan Griya Sampurna yang berbatasan dengan pemukiman warga di bawahnya, di Kampung Cipareuag Desa Sukadana Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang. Tebing setinggi sekitar 50 meter ini dikhawatirkan ambrol jika hujan turun. Foto diambil Selasa (5/9/2017). 

Laporan Tim Tribun Jabar

TRIBUNJABAR.CO.ID - Terkait protes yang dilakukan warga Desa Sukadana soal penuntutan pembangunan benteng penahan, pihak pengembang Perumahan Griya Sampurna memberikan tanggapannya.

Direktur Utama PT Kresna Eka Karya Nugraha, Cahya Muhammad Nuh, mengatakan, dirinya sudah sering mendengar keluhan warga soal tebing yang dikhawatirkan roboh menimpa permukiman.

Tembok penahan tebing, ujarnya, bisa menjadi solusi. Namun, kata Cahya, perlu waktu bagi mereka untuk membangun tembok penahan tersebut.

"Saya tampung (keluhan), tapi saya juga usaha, tidak mau rugi. Karenanya, saya tidak bisa segera membangunkan benteng untuk menahan tanah itu," ujar Cahya kepada Tribun, Selasa (29/8/2017).


Cahya mengatakan, warga yang merasa khawatir terjadi longsor tak jarang mendatanginya. Biasanya warga datang ke kantor pemasaran.

"Kami jelaskan bahwa pembangunan sudah sesuai analisis teknis dari Dinas Cipta Karya. Kami sudah berencana membangun tembok penahan tebing dan melakukan penghijauan di area perumahan. Tapi warga selalu ingin segera," ujarnya.

Di lahan perumahan yang terus merayap hingga ke puncak bukit di kaki Gunung Geulis itu, rencananya dibangun 3.000 unit rumah. Pembangunan sudah berlangsung empat tahun dan baru selesai sekitar 700 unit rumah.

"Jadi, 50 persennya juga belum. Kami tidak akan lari. Semua permasalahan dengan warga tentu kami selesaikan," ujarnya.

Sebagai antisipasi agar tidak terjadi longsor, selama pembangunan berjalan, pengembang, menurut Cahya, terus melakukan pemadatan terhadap tanah di lahan perumahan seluas 25 hektare itu.

Pemadatan dilakukan dengan menyiramkan air secara berkala pada tanah urukan, kemudian dipadatkan dengan menggunakan backhoe.


"Saya juga menghitung, kapan musim hujan, kapan musim panas. Sebelum hujan datang, tanah harus dipadatkan agar tidak tergerus air," ujar Cahya.

Penulis: Ragil Wisnu Saputra
Editor: Fauzie Pradita Abbas
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help