TribunJabar/

Miris, Petani di Bandung Timur Harus Beli Air Limbah untuk Mencegah Gagal Panen

Akibat kemarau panjang, petani terpaksa menggunakan air limbah untuk mengairi sawah mereka. Air limbah tersebut pun tidak bisa digunakan secara gratis

Miris, Petani di Bandung Timur Harus Beli Air Limbah untuk Mencegah Gagal Panen
TRIBUNJABAR.CO.ID/SELI ANDINA
Sawah di Desa Sukamanah yang terancam gagal panen akibat kemarau panjang, Rabu (13/9/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Seli Andina

TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Akibat kemarau panjang, petani terpaksa menggunakan air limbah untuk mengairi sawah mereka.

Air limbah tersebut pun tidak bisa digunakan secara gratis, para petani harus membelinya dari penjaga air.

Hal tersebut diungkapkan H Sobana, petana asal Rancabatok ketika ditemui Tribun Jabar di sawahnya di Desa Rancaekek Wetan, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Rabu (13/9/2017).

"Ya terpaksa beli air limbah, kan tidak ada pilihan lagi, irigasi sudah tidak mengalir," ujar H Sobana.

Para petani membeli air dengan kisaran harga bervariasi, tergantung penjaga air limbahnya, mulai dari Rp 300 ribu - Rp 500 ribu untuk satu hari.

H Sobana bahkan terpaksa merogoh kocek hingga tiga juta rupiah untuk bisa menyedot air limbah untuk satu bulan.

Selain harganya mahal, air limbah pabrik pun sebetulnya sangat buruk untuk tumbuh kembang tanaman.


Tanaman padi bisa menjadi puso atau kosong bulirnya bila terus menerus disiram air limbah setiap hari.

"Bahkan kalau padi-padi yang masih kecil itu, yang baru beberapa minggu, akan mati kalau kena air limbah," ujar H Sobana.

Sayangnya para petani tidak memiliki pilihan lain, air limbah menjadi satu-satunya sumber air yang tersedia untuk mengairi sawah mereka meskipun harus membelinya.

Bila tidak diairi, maka ribuan hektar lahan sawah terancam gagal panen karena padi akan mati.

Untuk mengakalinya, para petani tidak membiarkan air limbah menggenangi sawah mereka terlalu lama.

Para petani berharap ada bantuan air untuk mengairi sawah mereka agar tidak gagal panen atau terancam puso.

Penulis: Seli Andina Miranti
Editor: Jannisha Rosmana Dewi
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help