TribunJabar/

Fahri Hamzah: Saatnya Pemuda Muslim Berperan dalam Pembangunan

Karena itu, menurut Fahri, sudah saatnya pemuda untuk mempersiapkan diri dan meningkatkan kepedulian terhadap . . .

Fahri Hamzah: Saatnya Pemuda Muslim Berperan dalam Pembangunan
KOMPAS IMAGES
Fahri Hamzah 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, M Syarif Abdussalam

 TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Pemuda harus memiliki kepedulian dan perhatian terhadap kondisi yang terjadi dan dialami bangsa ini.

Termasuk para pemuda muslim yang tersebar di seluruh Indonesia dan bergerak di semua bidang. Semuanya harus memberikan kontribusi terhadap pembangunan.

"Apalagi Indonesia akan mendapatkan bonus demokrasi dengan banyaknya penduduk usia produktif beberapa tahun lagi. Dalam hal ini, pemuda harus memiliki peran dan memberikan kontribusi," ujar Presiden Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) sekaligus Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah, di Kota Bandung, Minggu (13/8/2017).

Menurut Fahri, KAMMI lahir saat reformasi tahun 1998 lalu. KAMMI lahir dalam situasi politik dan saat ini dianggap terlalu politis.

"Memang seperti itu. Tidak masalah dianggap politis. Karena kita lahir saat situasi politik dan fokus terhadap masalah nasional," ungkapnya.

Sebagai sebuah organisasi, maka KAMMI berusaha untuk mewujudkan generasi muslim negarawan. Generasi ini tidak boleh dilupakan dan dibiarkan diisi oleh orang lain yang tidak bertanggung jawab. "Kami mendorong lahirnya muslim negarawan yang kritis dan memiliki identitas," katanya.

Karena itu, menurut Fahri, sudah saatnya pemuda untuk mempersiapkan diri dan meningkatkan kepedulian terhadap permasalahan yang dihadapi bangsa dan negara ini.

"Dan yang harus dimiliki pemuda untuk menjadi pemimpin dan negarawan adalah paham tentang ke-Indonesia-an," jelasnya.

Selain itu, kata Fahri, pemuda harus paham tentang arti demokrasi. Karena menurut dia, tidak semua orang mengerti tentang arti dan makna demokrasi. "Poin ini juga sangat penting untuk dimiliki," terangnya.

Fahri mengakui, sangat prihatin dengan kondisi bangsa dan negara saat ini. Sumber Daya Alam Indonesia rusak dan tanah-tanah sudah dimiliki asing.

"Pembangunan yang dilakukan saat ini adalah bukan pembangunan tapi memakan sisa warisan. Karena pembangunan adalah dari awalnya tidak punya menjadi punya," tegas Fahri. (*)

Penulis: sam
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help